Penajam

DPUPR PPU Pastikan Tak Ada Pengaspalan Jalan di 2026, Ini Alasannya

113
×

DPUPR PPU Pastikan Tak Ada Pengaspalan Jalan di 2026, Ini Alasannya

Sebarkan artikel ini

Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memastikan tidak ada proyek pengaspalan jalan pada tahun 2026

Kepala Bidang Bina Marga DPUPR PPU, Petriandy Pongonton Pasulu. Ia mengatakan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) PPU hanya akan melakukan pemeliharaan terbatas menggunakan Lapis Pondasi Bawah (LPB). (TITIKNOL.ID/CINDY)

TITIKNOL.ID, PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memastikan tidak ada proyek pengaspalan jalan pada tahun 2026.

Sebagai gantinya, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) PPU hanya akan melakukan pemeliharaan terbatas menggunakan Lapis Pondasi Bawah (LPB).

Kepala Bidang Bina Marga DPUPR PPU, Petriandy Pongonton Pasulu, mengungkapkan bahwa kebijakan ini terpaksa diambil menyusul merosotnya porsi anggaran untuk infrastruktur jalan tahun ini.

“Harapan kita pemeliharaan jalan tetap berjalan, meski bukan pengaspalan melainkan LPB. Untuk aspal, tahun ini kita memang tidak ada anggarannya,” ujar Petriandy, Minggu (8/2/2026).

Terkendala Stok Material Campuran Meski material dasar berupa batu koral sudah tersedia, Petriandy menyebut pihaknya masih mengupayakan pengadaan material campuran agar pengolahan LPB bisa segera dilakukan.

Menurutnya, penanganan ini sangat mendesak demi menyelamatkan akses jalan desa yang mulai rusak. Batu koral harus diolah terlebih dahulu menjadi LPB sebelum dihampar dan dipadatkan pada titik-titik jalan berlubang.

“Posisi material campuran itu yang masih kosong. Padahal ini mendesak untuk menutup jalan yang rusak. Jika sudah dicampur, baru disebut LPB. Itu langkah paling realistis yang bisa kita lakukan sekarang,” jelasnya.

Prioritas Lubang Kecil dan Penanganan Darurat Dengan keterbatasan dana, DPUPR fokus pada penanganan ringan atau patching untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.

Salah satu teknik yang digunakan adalah sistem recycling untuk menambal lubang-lubang kecil, seperti yang dilakukan di area depan rumah sakit.

Petriandy menambahkan, pihaknya juga memaksimalkan peran Unit Pelaksana Teknis (UPT) di tingkat kecamatan untuk menjangkau kerusakan di wilayah desa dan kelurahan.

Baca Juga:   Tantangan Warga Malinau Kalimantan Utara dalam Peroleh BBM, Medan Sulit hingga Harga Tinggi 

“Lebih baik lubang ditutup sekarang daripada makin besar sementara anggaran habis,” tegasnya.

Warga Masih Harus Bersabar Kondisi ini membuat sejumlah permintaan perbaikan jalan permanen dari berbagai wilayah belum bisa terpenuhi.

Beberapa titik krusial seperti Kelurahan Saloloang, Kampung Baru, hingga Pejala dipastikan masih harus menunggu penanganan menyeluruh.

“Perhatian kita pasti ke sana, tapi anggaran saat ini tidak memungkinkan untuk semua. Yang bisa kami bantu hanya penanganan sementara menggunakan agregat,” pungkas Petriandy.(TN01)