Nasional

Catat! Jelang Lebaran 2026, Pemerintah Terapkan WFA dan Diskon Transportasi hingga 30 Persen

61
×

Catat! Jelang Lebaran 2026, Pemerintah Terapkan WFA dan Diskon Transportasi hingga 30 Persen

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Kalender (HO/Istimewa)

TITIKNOL.ID – Pemerintah berencana memberlakukan kebijakan Work From Anywhere (WFA) menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026.

Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong pergerakan masyarakat sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor pariwisata.

‎Rencana tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Ia menyebut WFA akan diterapkan pada 16–17 Maret 2026 serta 25, 26, dan 27 Maret 2026, guna mengisi hari kerja yang berdekatan dengan masa libur Lebaran.

‎“Kami juga akan berikan WFA, supaya hari libur yang bolong-bolong mendekati nanti hari raya Lebaran itu bisa diisi WFA,” ujar Airlangga, Sabtu (7/2/2026).

‎Kebijakan ini diambil setelah pemerintah mencatat pertumbuhan sektor pariwisata sebesar 17,5 persen selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Pemerintah berharap pola serupa dapat terulang saat momentum Lebaran.

‎Selain kebijakan fleksibilitas kerja, pemerintah juga menyiapkan berbagai insentif transportasi untuk mendukung mobilitas masyarakat.

Diskon tiket kereta api sebesar 30 persen akan kembali diberlakukan pada periode Lebaran 2026.

‎Tak hanya kereta api, pemerintah juga memberikan potongan harga tiket kapal laut sebesar 30 persen.

Sementara untuk tiket pesawat, diskon yang disiapkan berkisar antara 17 hingga 18 persen.

‎Adapun jadwal resmi cuti bersama Lebaran 2026 telah ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 42 Tahun 2025 tentang Cuti Bersama Pegawai Aparatur Sipil Negara Tahun 2026 yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto pada 31 Desember 2025.

‎Dalam aturan tersebut, cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah ditetapkan pada 20, 23, dan 24 Maret 2026 atau jatuh pada Jumat, Senin, dan Selasa.

Dengan kombinasi cuti bersama, akhir pekan, serta kebijakan WFA, masyarakat diperkirakan memiliki waktu lebih fleksibel untuk merencanakan mudik maupun liburan Lebaran tahun ini.

‎Jika demikian, kapan masa Ramadan 2026 dimulai?

‎Terdapat beberapa versi awal puasa Ramadan 1447 Hijriah atau puasa 2026 antara NU, Muhammadiyah, Pemerintah, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

‎Peneliti BRIN memprediksi awal puasa tahun ini berpeluang jatuh pada tanggal berbeda, yakni antara 18 atau 19 Februari 2026, tergantung kriteria yang digunakan.

‎Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof.

Baca Juga:   Pemicu Utama Banjir Samarinda 2025, Wagub Kaltim Seno Aji Tuding Kondisi Irigasi tak Maksimal 

Thomas Djamaluddin, menjelaskan sumber perbedaan kali ini bukan lagi perdebatan posisi hilal semata, melainkan penggunaan konsep hilal lokal dan hilal global.

‎”Potensi perbedaan awal Ramadan 1447 H cukup besar. Bukan karena data astronominya berbeda, tetapi karena kriteria yang digunakan, apakah berbasis wilayah lokal atau global,” ujar Thomas mengutip detikcom.

‎Thomas menjelaskan, mayoritas ormas Islam dan pemerintah Indonesia menggunakan pendekatan hilal lokal, yaitu mensyaratkan visibilitas hilal di wilayah Indonesia.

‎”Pada magrib 17 Februari, posisi bulan masih di bawah ufuk. Karena itu, jika memakai hilal lokal, awal Ramadan jatuh pada 19 Februari 2026,” jelasnya.

‎Namun, hasilnya berbeda jika menggunakan pendekatan hilal global, yakni selama hilal sudah memenuhi kriteria di wilayah manapun di dunia dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.

‎Penetapan resmi awal Ramadan di Indonesia tetap berada di tangan Kementerian Agama RI melalui sidang isbat. Kemenag menjadwalkan pengamatan hilal dan sidang isbat pada 17 Februari 2026.

‎Berdasarkan prakiraan BMKG, posisi hilal saat matahari terbenam pada 17 Februari masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia.

Ketinggian hilal tercatat berkisar antara minus 2,41 derajat di Jayapura hingga minus 0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat.

‎Artinya, secara rukyat, hilal diperkirakan belum mungkin terlihat pada hari tersebut. Jika merujuk kriteria ini, awal Ramadan kemungkinan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

‎Indonesia sendiri menggunakan kriteria imkanur rukyat yang disepakati negara anggota MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Pada 18 Februari 2026, BMKG mencatat posisi hilal sudah berada di atas horizon dengan ketinggian antara 7,62 derajat hingga 10,03 derajat, serta elongasi di atas 10 derajat, yang secara teori telah memenuhi kriteria visibilitas. (*/)

Baca Juga:   Insentif Guru Honorer Naik Jadi Rp400 Ribu, DPR Nilai Masih Jauh dari Layak