Hanya ada di dua negara di dunia! Kenali spesies ‘purba’ Crocodylus siamensis yang kini terkepung sawit di Kutai Timur. Akankah ia bertahan atau sekadar jadi kenangan?
TITIKNOL.ID, SANGATTA – Keberadaan spesies langka Buaya Badas Hitam (Crocodylus siamensis) di Desa Sumber Sari, Kecamatan Long Mesangat, Kabupaten Kutai Timur, kini tengah menjadi sorotan tajam.
Sebagai salah satu reptil paling langka di dunia, habitatnya kini menghadapi tantangan serius di tengah potensi wisata yang belum tergarap maksimal.
Kawasan rawa di Long Mesangat ini sejatinya adalah harta karun bagi dunia konservasi.
Pasalnya, populasi buaya jenis ini dikabarkan hanya tersisa di dua negara saja, yakni Indonesia dan Thailand.
Namun, eksistensi reptil purba ini mulai terancam oleh masifnya pembukaan lahan sawit yang kian mendekati bibir rawa.
Habitat yang Kian Terhimpit
Camat Long Mesangat, Rapichin, mengungkapkan bahwa daratan yang berbatasan langsung dengan tempat berkembang biak buaya kini telah didominasi oleh perkebunan sawit milik masyarakat.
“Potensinya sangat besar karena wilayah perairannya berupa rawa yang luas. Namun, kendalanya adalah area daratannya sudah penuh dengan tanaman sawit. Ini tantangan besar untuk pengembangan kawasan,” ujar Rapichin, Jumat (6/3/2026).
Mirisnya, perhatian dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Pariwisata, dinilai masih sangat minim.
Hingga kini, belum ada program strategis yang mampu menyulap kawasan ikonik ini menjadi destinasi wisata edukasi atau pusat penelitian reptil tingkat dunia.
Vakumnya Pengelolaan Pasca-Kontrak LSM
Kondisi semakin mengkhawatirkan setelah berakhirnya masa kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang sebelumnya aktif melakukan pendampingan.
Dulu, kawasan ini dipantau ketat oleh Yayasan Ulin dan Yasiwa yang membina kelompok nelayan setempat untuk menjaga kelestarian buaya.
“Selama ini dikelola oleh Yayasan Ulin dan Yasiwa. Namun, memasuki tahun 2026 ini, tampaknya kontrak mereka sudah berakhir karena tidak ada lagi komunikasi lebih lanjut,” tambah Rapichin.
Padahal, keterlibatan nelayan binaan terbukti efektif. Mereka mampu memantau siklus hidup buaya, mulai dari proses bertelur hingga menetas secara alami, sekaligus memastikan keamanan warga saat kondisi banjir melanda.
Harapan untuk Masa Depan
Masyarakat Desa Sumber Sari sebenarnya sangat terbuka jika wilayah mereka dijadikan destinasi wisata konservasi. Namun, hal ini memerlukan dukungan regulasi, infrastruktur, dan pengelolaan jalur yang profesional dari pemerintah.
Selain isu lingkungan, Rapichin juga menyinggung persoalan administrasi desa, di mana masih ada tiga dari tujuh desa di kecamatannya yang belum menerima pencairan dana desa tahap empat untuk tahun anggaran 2025.
“Kami berharap ada perhatian serius. Pengelolaan yang baik bukan hanya soal wisata, tapi juga menjaga agar spesies langka ini tetap lestari dan tidak mengganggu pemukiman saat air pasang,” pungkasnya. (*)












