TITIKNOL.ID, PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menghadapi tekanan fiskal setelah pendapatan daerah mengalami penurunan signifikan.
Dari sebelumnya lebih dari Rp3 triliun pada 2024, pendapatan APBD kini hanya sekitar Rp1,6 triliun, bahkan pendapatan riil dari bagi hasil berkisar Rp1,3 triliun.
Bupati PPU, Mudyat Noor mengatakan kondisi itu menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dalam menjalankan pembangunan.
“Fiskal daerah kita saat ini cukup terbatas. Pendapatan APBD sekitar Rp1,6 triliun, bahkan pendapatan riil dari bagi hasil hanya sekitar Rp1,3 triliun,” ujarnya saat menghadiri silaturahmi dan buka puasa bersama yang digelar Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten PPU, Minggu (15/3/2026).
Menurut dia, keterbatasan anggaran membuat pemerintah daerah harus lebih selektif menentukan prioritas program.
Pemkab PPU, kata dia, akan tetap memfokuskan anggaran pada program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Beberapa di antaranya peningkatan layanan kesehatan dan pendidikan, perbaikan infrastruktur jalan, program Kartu Penajam Cerdas, serta layanan air bersih gratis melalui PDAM.
Pemkab juga menyiapkan penambahan fasilitas kesehatan, termasuk pengadaan alat CT Scan di rumah sakit daerah guna mengurangi rujukan pasien ke luar daerah.
Dalam acara buka puasa bersama tersebut, Mudyat turut mengapresiasi kegiatan KAHMI PPU yang dinilai tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menunjukkan kepedulian sosial kepada masyarakat.
Ia berharap organisasi alumni itu dapat terus berperan memperkuat kebersamaan sekaligus mendukung berbagai program pembangunan yang dijalankan pemerintah.
Lewat kegiatan tersebut, KAHMI PPU juga menyerahkan santunan kepada anak-anak panti asuhan dan pondok pesantren di wilayah PPU.
(TN01)












