SIAP PANEN – Areal pertanian padi di di Kabupaten Penajam Paser Utara akan segera dipanen. inas Pertanian PPU memastikan gabah petani tidak akan tersendat pasar dan tetap diserap Bulog.(TITIKNOL.ID/CINDY)
TITIKNOL.ID, PENAJAM – Puncak panen padi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dipastikan terjadi usai Lebaran Idul Fitri.
Di tengah lonjakan produksi itu, Dinas Pertanian PPU memastikan gabah petani tidak akan tersendat pasar dan tetap diserap Bulog.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, menegaskan penyerapan gabah sejauh ini berjalan lancar.
Selama rencana panen dilaporkan melalui penyuluh, hasil panen dipastikan masuk dalam skema penyerapan.
“Serapan gabah tidak ada masalah. Sepanjang penyuluh melaporkan rencana panen ke Bulog, pasti diserap,” jelas Gunawan, Rabu (25/3/2026).
Ia menegaskan, penyerapan oleh Bulog merupakan upaya pemerintah menjaga harga gabah tetap stabil sekaligus melindungi kesejahteraan petani.
Namun, Gunawan mengingatkan tidak semua gabah bisa langsung diterima. Bulog tetap menerapkan standar kualitas yang harus dipenuhi petani.
“Bulog pasti mau menyerap, tapi ada standar. Kalau kadar air tinggi atau gabah masih hijau, dengan tingkat kematangan di bawah 70 persen, itu yang ditolak,” katanya.
Ia mengungkapkan, persoalan di lapangan kerap muncul dari praktik panen yang tidak mengikuti rekomendasi penyuluh.
Operator alat panen dinilai sering mengabaikan tingkat kematangan tanaman.
“Yang jadi masalah itu di lapangan. Satu hamparan baru 80 persen siap panen, tapi sisanya yang masih hijau ikut dibabat. Operator alat panen biasanya fokus kerja, yang penting dapat upah,” ujarnya.
Kondisi itu berdampak pada kualitas gabah yang menurun dan berpotensi tidak terserap Bulog.
Terkait volume, Gunawan memastikan tidak ada batas minimal tonase untuk penyerapan. Selama memenuhi standar dan sudah dilaporkan, gabah tetap akan diterima.
“Tidak ada syarat ton. Yang penting dilaporkan dan sesuai kriteria panen, pasti diambil Bulog,” tegasnya.
Ia juga meminta petani tidak khawatir. Selain Bulog, masih ada mitra penggilingan yang dapat menyerap hasil panen.
“Selama harganya masih wajar dan menguntungkan petani, itu aman. Yang kita awasi kalau harga jatuh di bawah HPP Rp6.500 dan terjadi gejolak,” pungkasnya. (TN01)












