Puluhan kulkas hangus dan kerugian mencapai puluhan juta rupiah. Musibah kebakaran di Pasar Segiri Samarinda tidak hanya menghanguskan fisik bangunan, tapi juga melumpuhkan mata pencaharian para pedagang dan karyawannya. Bagaimana nasib mereka selanjutnya? Baca selengkapnya
TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Kebakaran hebat yang melanda Pasar Segiri Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur pada Kamis (26/3/2026) dini hari menyisakan duka mendalam bagi para pedagang.
Selain menghancurkan bangunan fisik, si jago merah juga melumpuhkan roda ekonomi warga yang menggantungkan hidup di pasar induk tersebut.
Detik-Detik Mencekam dan Suara Ledakan Arjuna (50), salah seorang pedagang udang dan es batu, menceritakan suasana mencekam saat api mulai berkobar.
Menurutnya, api pertama kali muncul dari area tengah blok sayuran sekitar pukul 04.15 WITA, di saat aktivitas pasar sedang padat-padatnya.
“Jam satu dini hari saja di sini sudah penuh aktivitas. Tiba-tiba api muncul dari tengah sekitar jam empat pagi, kami semua langsung lari menyelamatkan diri,” ungkap Arjuna saat ditemui di lokasi kejadian.
Upaya warga untuk memadamkan api secara mandiri sempat dilakukan, namun situasi berubah kacau setelah terdengar serangkaian ledakan keras dari titik awal api.
“Ada ledakan karena di situ ada penjual barang campuran yang juga menjual bensin. Ditambah lagi ada dua unit motor yang ikut meledak. Itu yang membuat orang-orang panik dan berhamburan,” tambahnya. Ledakan tersebut mempercepat penyebaran api dan mengancam keselamatan siapa pun yang berada di sekitar lokasi.
Kerugian Materil dan Hilangnya Penghasilan Musibah ini memaksa Arjuna menelan kenyataan pahit. Sebagian besar aset usahanya hangus tak bersisa.
Dari total 30 unit kulkas miliknya, hanya 10 unit yang berhasil diselamatkan, sementara sisanya rusak berat dilalap api.
“Kerugian fisik saja sudah puluhan juta rupiah, itu baru dari saya sendiri. Belum lagi kehilangan penghasilan harian. Kalau sepuluh hari saja tidak jualan, hitungannya sudah berapa puluh juta lagi yang hilang,” keluh Arjuna yang memiliki tiga orang karyawan.
Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh pemilik usaha, tetapi juga para pekerja yang kini terancam kehilangan sumber pendapatan rutin mereka.
Upaya Bertahan dan Harapan pada Pemerintah
Untuk sementara, Arjuna terpaksa menghentikan usaha es batunya dan mengalihkan karyawannya ke unit usaha lain yang masih tersisa.
Ia berencana membangun atap darurat secara mandiri agar bisa segera kembali berjualan demi menyambung hidup.
Langkah ini menjadi satu-satunya pilihan agar perputaran ekonomi pribadinya tidak terhenti total. Di sisi lain, pemerintah daerah telah turun ke lapangan untuk mendata para korban terdampak.
Arjuna berharap proses pemulihan pasar induk ini bisa dilakukan dengan cepat oleh pemerintah.
“Pemerintah tadi sudah datang mendata. Harapan kami segera diperbaiki, karena ini pasar induk, pusat belanja warga Samarinda. Kalau aktivitas di sini terganggu, semua orang susah,” tutupnya. (*)












