PenajamTitiknolKaltim

Kedelai dan Plastik Naik, Produsen Tempe di Penajam Kurangi Isi dan Produksi

5
×

Kedelai dan Plastik Naik, Produsen Tempe di Penajam Kurangi Isi dan Produksi

Sebarkan artikel ini
Pabrik tempe milik Hadra (70) di Desa Girimukti, Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU. Produksinya terkena dampak lonjakan dua komponen sekaligus, yaitu kedelai dan plastik. (TITIKNOL.ID/Cindy)

TITIKNOL.ID, PENAJAM – Kenaikan harga bahan baku dan kemasan menekan usaha tempe rumahan di Desa Girimukti, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Produsen terpaksa mengurangi gramasi hingga menekan produksi harian.

Hadra Jakawa (70), pemilik usaha tempe setempat, menyebut kenaikan menghantam dua sisi biaya sekaligus, yakni kedelai dan plastik sebagai kemasan.

Dalam dua bulan terakhir, harga kedelai naik dari Rp10 ribu menjadi Rp13 ribu per kilogram. Sementara itu, harga plastik dari pabrik plastik di Solo menginformasikan akan melonjak dari Rp100 menjadi Rp300 per lembar.

“Untuk bungkus masih pakai stok lama, tapi sudah ada pemberitahuan harga plastik naik,” kata Hadra, Selasa (21/4/2026).

Tekanan biaya itu langsung berdampak pada produk. Hadra mengaku terpaksa melakukan penyusutan berat tempe dari 280 gram menjadi 260 gram per bungkus. Produksi pun ikut dipangkas.

“Dulu bisa 5 sampai 6 kuintal per hari, sekarang hanya sekitar 4 kuintal,” ujarnya.

Usaha tempe yang dirintis sejak tahun 2000-an itu selama ini mengandalkan kemasan plastik bermerek.

Opsi beralih ke daun pisang dinilai belum memungkinkan karena pasokan terbatas dan harga lebih tinggi.

“Sempat coba, tapi tidak bertahan lama. Penjual daun pisang jarang, jumlahnya juga tidak cukup,” tambahnya.

Dalam kondisi normal, produksi harian mencapai 2.000 hingga 3.000 bungkus dengan harga jual Rp4 ribu per bungkus. Namun, penurunan produksi membuat pemasukan ikut seret, sementara 27 pekerja tetap harus digaji.

“Kalau produksi sedikit, banyak juga tekornya. Belum lagi gaji pekerja,” kata Hadra.

Meski dihimpit kenaikan biaya, usaha tersebut tetap dipertahankan. Selain untuk kebutuhan hidup, rumah tempe Hadra itu juga menjadi sumber penghasilan bagi para pekerjanya.

“Kadang untung, kadang tidak. Tapi tetap jalan karena ini kebutuhan sehari-hari, pekerja juga bergantung di sini,” tutupnya.

Baca Juga:   Jadi Ikon Baru Tempat Warga Berkumpul, DLH PPU Bakal Rutin Siram Pohon di Costal Road

(TN01)