Selamat Dalam Kecelakaan Pesawat Smart Air Aviation di Kaltara, Ini Sosok Pilot Muhammad Yusuf

Pilot bernama Muhammad Yusuf Yusandikan Katohe (29), berhasil selamat dari kejadian nahas di Kalimantan Utara.

TITIKNOL.ID – Sosok pilot pesawat Smart Air Aviation tipe PC6 PK-SNE yang jatuh di Binuang, Nunukan, Kalimantan Utara pada Jumat (8/3/2024) siang.

Pilot bernama Muhammad Yusuf Yusandikan Katohe (29), berhasil selamat dari kejadian nahas tersebut.

Pesawat tersebut diketahui sedang membawa 583 kilogram sembako yang masuk dalam program subsidi ongkos angkut (SOA) barang, dari Bandara Tarakan menuju Krayan, Nunukan.

Pilot muda asal Bekasi, Jawa Barat tersebut dikabarkan selamat usai pesawat yang dibawanya jatuh pada Jumat (8/3/2024) dan ditemukan pada Minggu (10/3/2024) di Binuang, Nunukan, Kalimantan Utara.

Profil Singkat Pilot M Yusuf

Pilot pesawat Smart Air Aviation tipe PC6 PK-SNE diketahui bernama Muhammad Yusuf Yusandika Kantohe.

M Yusuf lahir di Makassar pada 26 Juni 1994.

Pilot berusia 29 tahun tersebut merupakan lulusan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Tangerang, Banten tahun 2016.

Diketahui pilot M Yusuf sudah menikah pada Juli 2021 dengan Daana Caesar.

Dari pernikahannya tersebut, M Yusuf dan Daana Caesar dikaruniai seorang putra bernama Zaf Alsakhi Kantohe.

Muhammad Yusuf ditemani seorang teknisi bernama Deni Sobali asal Pangandaran, Jawa Barat.

Sementara teknisi bernama Deni Sobali yang dinyatakan meninggal dunia.

Deni berusia 35 tahun asal Wonoharjo, Pangandaran, Jawa Barat.

“Pilotnya selamat dan teknisinya meninggal dunia,” ujar Kepala Desa Binuang, Krayan, Kalvin Daud Ipin saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu (10/3/2024).

M Yusuf mampu selamat setelah menyelakan api unggun dan memberi tanda asap.

Pihak tim penyelamat melihat kepulan asap dan asap tersebut dibuat oleh kru Smart Air korban kecelakaan.

Pada saat M Yusuf ditemukan, kondisi pilot terlihat sehat namun tampak letih.

Selama berada di hutan, sang pilot terus mencari solusi agar keberadaan puing pesawat dan kru terdeteksi tim SAR.

“Pilot buat api unggun, jadi asap yang terlihat waktu pencarian kemarin memang dia yang buat,” ujar Kalvin.

Kalvin menduga, teknisi pesawat Deni meninggal usai mengalami benturan dengan ranting pepohonan.

“Mungkin karena bagian sayap kiri yang parah rusaknya, teknisi menerima hantaman kuat dari ranting pohon. Tapi itu baru dugaan saya,” jelasnya.

Baca Juga:   Gubernur Zainal: ASN Jangan Terlibat Politik Praktis

Para korban, kemudian dievakuasi dengan Helikopter Caracal ke Tarakan, dan langsung dilarikan ke RSUD Jusuf SK.

“Kami sudah dapat info, saat ini, Kapten Yusuf sudah dalam penanganan medis dan masih proses pemulihan. Keterangan dari dokter, beliau masih dalam keadaan sadar,” kata Kalvin.

Lokasi Jatuh hingga Puing-puing Akhirnya Ditemukan

Sebelumnya, pesawat Smart Air yang diawaki pilot Capt M Yusuf dan Deni S itu dievakuasi pada Minggu (10/3/2024).

Pesawat perintis yang mengangkut sembako tersebut ditemukan kurang lebih 6,1 KM dari Bandara Binuang, Kalimantan Utara.

Di lokasi jatuhnya pesawat, terlihat ada asap mengepul diduga berasal dari kru pesawat yang terjebak di dalam hutan.

Komandan Lanud Anang Busra Kota Tarakan, Kolonel Pnb Bambang Sudewo mengatakan tim evakuasi akan memberikan bantuan logistik dan berharap kedua kru pesawat masih selamat.

“Harapan kami itu asap yang diberikan tanda dari kru pesawat. Secara logika, 1×24 jam di wilayah itu, tidak pernah ditemui asap.”

“Dengan adanya persaksian kawan-kawan pesawat Smart air, ada asap mengepul kemudian melihat seperti titik api. Harapannya itu dibuat oleh kru pesawat. Mohon doanya,” ungkapnya, Minggu, dikutip dari TribunKaltara.com.

Selama dua hari penuh proses pencarian dilakukan tim gabungan mulai dari petugas SAR, TNI,Polri, Satpol PP dan warga sekitar.

Sekretaris Desa Binuang, Daniel mengatakan proses pencarian hari kedua atau pada Sabtu (9/03/2024) selesai pukul 18.00 Wita.

Dalam pencarian tersebut, tim kesulitan lantaran kondisi hutan yang masih lebat dan lokasinya berbukit-bukit.

Menurutnya, titik jatuhnya pesawat hanya bisa dilalui dengan jalan kaki.

“Iya, kami dapat informasi sudah ketemu pesawatnya. Tapi kami tidak sampai ke situ. Menurut info perjalan memakan waktu 1-2 hari. Sementara bekal tidak cukup. Malam ini kita rapatkan lagi,” tuturnya.

Lokasi jatuhnya pesawat dari Desa Binuang dapat diakses menggunakan sepeda roda dua selama 20 menit dan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Baca Juga:   Update Hasil Liga 1: PSM Makassar vs Persebaya Surabaya Berakhir Imbang Tanpa Gol

Sebelumnya, Kolonel Pnb Bambang Sudewo menyatakan evakuasi akan menggunakan heli bell miliki TNI AD dan berisi tim penolong dari Basarnas.

Kemudian, pesawat Boeing 737 juga akan diterbangkan lebih tinggi dari heli untuk mengamati proses evakuasi.

“Setelah diskusi panjang, bagaimana safety-nya, prosedurnya sudah didrillkan di sana dan peluang lain, kita putuskan bersama untuk besok apabila lokasi sudah terbuka, nyata terlihat aman, maka akan kita turunkan Tim Basarnas,” tandasnya.

Tim SAR akan diturunkan dari heli dengan cara repling untuk melakukan pertolongan pertama.

Setelah itu, dilakukan upaya membuka hutan untuk memudahkan proses evakuasi.

“Karena heli bell ini hanya bisa menurunkan tapi belum bisa menaikkan. Nah nanti akan didukung lagi satu heli dari TNI AU jenis Caracal, heli ini berkemampuan tidak hanya menurunkan tapi juga menaikkan. Intinya besok tergantung cuaca,” terangnya.

Sempat Hilang Kontak

Adapun pesawat PK SNE jenis Pc6 Pilatus milik Smart Air dilaporkan hilang kontak di tebing gunung wilayah Krayan Tengah, Nunukan, Kalimantan Utara.

Pesawat Smart Air itu diduga jatuh menghantam bukit.

Namun, hingga kini pesawat yang diawaki pilot Capt M Yusuf dan seorang bernama Deni itu belum juga ditemukan.

Beriku detik-detik pesawat Smart Air hilang kontak dan diduga jatuh menghantam bukit.

Pesawat perintis hilang kontak ini berangkat pada Jumat (8/3/2024) pagi.

Pesawat Smart Air yang mengantar sembako lepas landas dari Bandara Juwata Tarakan pukul 08.25.

Seharusnya pukul 09.25 WITA, pesawat tersebut tiba di Binuang, Krayan Tengah.

Namun, dinyatakan lost contact oleh pihak Airnav kurang lebih pada pukul 08.55 WITA.

Menurut Kepala Basarnas Kota Tarakan, Syahril, pihaknya menerima informasi dari pihak Manager Operasi Airnav Tarakan sekitar pukul 11.26 WITA, bahwa telah terjadi lost contact pesawat PK SNE Pilatus dengan rute Tarakan-Binungan.

Adapun arrival time departure (ATD) pukul 08.26 WITA dan tiba sekitar pukul 09.20 WITA.

“Saat informasi diterima, belum dapat informasi keberadaan pesawat. Dan sampai saat ini demikian,” jelasnya dilansir Tribun-medan.com dari TribunKaltara.com, Sabtu (9/3/2024).

Baca Juga:   Pesan Pj Bupati Makmur Marbun Usai PPU Terima Penghargaan Adipura Tahun 2023

Pada pukul 11.40 WITA, pesawat PK SNO melakukan penyisiran dari Long Bawan menuju Binuang berdasarkan lokasi spider tracking pada kordinat tiga derajat 37 menit 34 poin 58 detik knot.

Tetapi, hasilnya masih nihil.

“Kemudian dilanjutkan pada pukul 12.30 WITA, informasi dari Basarnas Pusat, kami mendapat signal informasi koordinat ELT dari pesawat PK SNE yang diterima LUT,” ucap Syahril.

Pada pukul 14.26 WITA, pesawat PK-SNG dan PK VVU melakukan penyisiran dari Malinau ke Binuang dengan koordinat yang berhasil ditangkap oleh LUT.

“Selanjutnya pada pukul 16.08 WITA, PK SNG dan PK VVU telah melakukan penyisiran dengan hasil nihil dan mendarat di Malinau untuk pengisian bahan bakar,” jelasnya.

Pukul 16.00 WITA, H SRU melakukan persiapan menuju lokasi menggunakan Heli Bell 412 SPI Reg. GA 5224 milik Kodam VI Mulawarman.

Lalu pukul 16.57 WITA, Heli Bell 412 EPI Registrasi GA. 5224 milik Kodam VI Mulawarman take off dari Tarakan menuju Binuang, untuk melakukan penyisiran dan melaksanakan evakuasi bila ditemukan keberadaan pesawat tersebut dengan estimasi 45 menit dan tiba pukul 17.43 WITA.

“Dengan personal on board (POB) 6 tim rescue Kansar Tarakan, dan 4 kru heli dengan total 10 orang dan diperkirakan operasi SAR dihentikan sampai pukul 19.00 WITA karena kondisi cuaca yang sudah gelap dan melakukan pengisian bahan bakar di Bandara Malinau,” jelasnya.

Sementara itu, sebelumnya, Kapolsek Krayan Selatan, Ipda Andi Irwan, mengatakan dirinya mendapat informasi warga sekitar lokasi kejadian sempat mendengar dentuman keras di tebing gunung sekira pukul 10.00 Wita.

“Warga yang berladang di sekitar TKP (tempat kejadian perkara) mendengar ada suara dentuman di tebing gunung,” kata Andi Irwan kepada TribunKaltara.com melalui telepon seluler, Jumat (08/03/2024), pukul 15.00 Wita.

Meski begitu, Andi Irwan belum mengetahui pasti terkait dentuman yang didengar warga.

Andi mengaku, telah perintahkan empat personel Polsek Krayan Selatan menuju lokasi kejadian yang dimaksud oleh warga. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *