News google
TitiknolTekno

Israel Diduga Gunakan Aplikasi WhatsApp untuk Targetkan Serangan ke Palestina

×

Israel Diduga Gunakan Aplikasi WhatsApp untuk Targetkan Serangan ke Palestina

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi aplikasi WhatsApp (HO/Pexels.com)

TITIKNOLID – Israel diduga menggunakan aplikasi perpesanan instan WhatsApp untuk menargetkan serangan kepada warga Gaza, Palestina.

Aplikasi tersebut membantu sistem kecerdasan buatan (AI) Israel yang dikenal sebagai Lavender untuk menargetkan sasarannya.

Laporan majalah Israel-Palestina, +972 Magazine, dan outlet berbahasa Ibrani Local Call menerbitkan laporan yang ditulis oleh Yuval Abraham yang mengekspos penggunaan sistem AI oleh militer Israel yang mengidentifikasi target-target Israel di Gaza, Palestina, seperti dilansir dari Arab News.

Insinyur perangkat lunak sekaligus pendiri Tech for Palestine Paul Biggar menyoroti ketergantungan Lavender pada WhatsApp.

Dia menunjukkan bagaimana keanggotaan dalam grup WhatsApp yang berisi tersangka militan dapat memengaruhi proses identifikasi Lavender.

Selain itu, Biggar juga menyatakan bahwa platform WhatsApp telah mendukung sistem penargetan AI milik Israel, Lavender.

“Detail yang sedikit dibahas dalam artikel Lavender AI adalah bahwa Israel membunuh orang berdasarkan keanggotaan mereka di grup WhatsApp yang sama dengan tersangka militan,” tulis Biggar, dikutip dari Arab News.

Biggar juga meragukan bahwa platform tersebut berbasis privasi dan menjamin enkripsi end-to-end untuk orang-orang Palestina.

Kerap menargetkan warga sipil

Sumber-sumber militer dan intelijen Israel mengakui bahwa mereka menyerang target ketika korban berada di rumah bersama seluruh keluarganya, seperti dikutip dari Middle East Monitor.

Sebuah laporan yang dilakukan The Guardian menyoroti bahwa Israel menggunakan sistem Lavender untuk mengidentifikasi targetnya di Gaza.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa para pejabat militer Israel menyasar warga sipil Palestina selama perang.

Sumber-sumber intelijen yang terlibat dalam perang mengatakan bahwa Israel menggunakan basis data bertenaga AI untuk mengidentifikasi 37.000 target potensial yang memiliki hubungan dengan Hamas.

“Kami biasanya melakukan serangan dengan bom acak dan itu berarti secara harfiah menjatuhkan seluruh rumah pada penghuninya,” ungkap salah satu intelijen Israel.

Baca Juga:   Viral di Media Sosial, Warganet Ramai-ramai Keluhkan Instagram dan WhatsApp Down

Sumber tersebut mengakui bahwa pasukan Israel memilih untuk mengebom seluruh rumah dari sebuah keluarga berdasarkan data yang diperoleh.

Menurut mereka, mengebom rumah dari sebuah keluarga dianggap jauh lebih mudah.

Melanggar hukum humaniter

Biggar mengatakan, pemberian data pengguna dari Meta WhatsApp ke Lavender meruntuhkan klaim bahwa aplikasi perpesanan tersebut telah melindungi data-data yang bersifat privasi.

Menurutnya, kemampuan militer Israel dalam mendapatkan data pengguna dari Whatsapp terkait dengan hubungan dekat antara rezim dan tiga pejabat Meta, termasuk CEO Meta Mark Zuckerberg.

Biggar memperingatkan, praktik semacam itu telah melanggar Hukum Humaniter Internasional dan komitmen Meta terhadap hak asasi manusia.

Sebagai informasi, perang di Gaza telah berlangsung selama lebih dari 6 bulan dan menewaskan lebih dari 34.000 orang, melukai hampir 77.000 orang, dan menghancurkan infrastruktur di kota tersebut.

Sebagian besar korban adalah wanita dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, Palestina.

Dibantah Meta

Sementara itu, juru bicara WhatsApp membantah bahwa pihaknya telah berbagi informasi mengenai data pengguna kepada pihak lain.

Pihaknya juga mengelak bahwa WhatsApp telah membagikan informasi massal kepada pemerintah mana pun.

“WhatsApp tidak memiliki pintu belakang dan kami tidak memberikan informasi besar-besaran kepada pemerintah mana pun,” ucapnya, masih dari sumber yang sama.

Meta mengatakan, selama lebih dari satu dekade, perusahaan tersebut telah memberikan laporan secara transparan.

Meta menyatakan memiliki prinsip sangat tegas, yaitu dengan hati-hati meninjau, memvalidasi, dan menanggapi permintaan penegak hukum berdasarkan hukum yang berlaku dan konsisten dengan standar yang diakui secara internasional, termasuk hak asasi manusia.

“Laporan kami berikutnya akan dirilis bulan depan, tepat waktu. Kami setuju bahwa ada lebih banyak hal yang berkaitan dengan privasi daripada enkripsi end-to-end,” terang Meta.

Baca Juga:   Dispusip PPU Gelar Lomba Perpustakaan, Berikut Para Pemenangnya

Pihaknya juga mengaku hingga saat ini terus bekerja keras untuk melindungi informasi terbatas yang tersedia dan terus mengembangkan lebih banyak fitur untuk melindungi informasi penggunanya. (*)