Penajam

Angka DBD Melonjak Hingga 1.354 Kasus di 2024, Dinkes PPU Ungkap Penyebabnya

534
×

Angka DBD Melonjak Hingga 1.354 Kasus di 2024, Dinkes PPU Ungkap Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
Inilah pertolongan pertama untuk pasien gejala DBD, (HO/Istimewa)

TITIKNOL.ID, PENAJAM – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2024, dengan puncaknya tercatat pada bulan Juli.

Menurut laporan Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU, sejak awal Juli, dilaporkan 220 kasus. Hingga Desember diketahui total kasus DBD mencapai 1.354 kasus.

Pengelola Program DBD Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU, Harjito Ponco Waluyo, mengungkapkan peningkatan kasus ini dipicu oleh mobilitas masyarakat yang tinggi, terutama terkait dengan persiapan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) dan berbagai kegiatan menjelang hari kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 2024.

Jumlah pekerja yang aktif di wilayah tersebut, kata Ponco, melonjak dari 12 ribu menjadi antara 16 ribu hingga 20 ribu.

“Kalau di Kecamatan Sepaku, pekerja IKN paling banyak terkena DBD,” ungkap Ponco, Jumat (10/1/2025).

Sebelumnya, PPU tidak dikenal sebagai daerah dengan angka kasus DBD yang tinggi.

Namun, akibat tingginya mobilisasi orang-orang dari Balikpapan, Samarinda, Jakarta, dan daerah lain, risiko penyebaran penyakit ini turut meningkat.

Ponco menegaskan bahwa pendekatan untuk mengatasi DBD juga telah berevolusi.

“Dulu kita mencari tahu dari perjalanan mana saja mereka datang, sekarang parasit DBD sudah dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti yang bisa berada di mana-mana,” jelasnya.

Sementara strategi fogging dianggap kurang efektif karena hanya membunuh nyamuk dewasa, fokus utama kini adalah pada pengendalian atau pemberantasan jentik nyamuk.

“Solusi terbaik adalah memusnahkan sarang-sarang jentik,” jelasnya.

Menjelang tahun 2025, Dinas Kesehatan PPU akan membuat salah satu desa di wilayah Sepaku sebagai kampung bebas jentik percontohan secara nasional.

Program ini juga melibatkan enam kabupaten/kota lainnya di Indonesia dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan DBD.

Baca Juga:   Update Hasil Real Count KPU di 5 Dapil Neraka: Persaingan Menuju DPR Memanas, Nama Besar Bertumbangan?

“Walaupun ada peningkatan kasus yang luar biasa, Alhamdulillah tidak ada laporan kematian akibat DBD di wilayah ini, dan semua kasus dapat dikendalikan,” kata Ponco.

Tim kesehatan juga menerapkan deteksi dini untuk kasus DBD, termasuk pemantauan demam yang tanpa sebab.

“Jadi jangan langsung diberi obat panas, tahan dulu, karena kita memiliki alat NS1 yang efektif untuk deteksi dini,” katanya.

Jika seseorang mengalami demam tanpa batuk atau pilek, perlu dicurigai sebagai potensi kasus DBD, mengingat parasit demam berdarah itu cepat bermutasi dan dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik. (TN01)