Nasional

Saham Bank BUMN Memerah Usai Peluncuran Danantara

431
×

Saham Bank BUMN Memerah Usai Peluncuran Danantara

Sebarkan artikel ini
PRABOWO RESMIKAN DANANTARA - Presiden Prabowo Subianto secara resmi telah meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Senin (24/2/2025).  Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan bilang seharusnya peluncuran Danantara menjadi sentimen positif bagi ekosistem perbankan nasional, terutama bagi bank-bank BUMN yang terlibat dalam proyek ini. (HO/Sekretariat Presiden) 

TITIKNOL.ID, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto secara resmi telah meluncurkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), Senin (24/2/2025). 

Bank-bank BUMN nantinya akan masuk dalam pengelolaan badan baru tersebut.

Kendati demikian, peluncuran BPI Danantara tampaknya tak cukup memberi respons positif bagi pergerakan saham-saham bank BUMN.

Sebab, hingga perdagangan sesi I di Senin 24 Februari 2025, mayoritas saham mereka justru memerah.

Ambil contoh, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang tercatat mengalami koreksi paling dalam di antara bank pelat merah lainnya.

Saham bank berlogo pita emas ini terkoreksi 1,48 persen dari harga akhir pekan lalu menjadi Rp5.000 per saham.

Penurunan ini menambah tren koreksi yang terjadi pada saham Bank Mandiri ini. Sebab, dalam sebulan terakhir, BMRI sudah terkoreksi hingga 18,37 persen .

Harga saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga elemah di akhir sesi pertama awal pekan ini. Saham BBNI turun 1,40 harga akhir pekan lalu menjadi Rp 4.240 per saham.

Sama halnya dengan Bank Mandiri, bank berlogo 46 ini juga sedang dalam tren koreksi. Setidaknya, BBNI telah mengalami koreksi hingga 8,03 sebulan terakhir.

Sedikit berbeda, harga saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) stagnan. Tidak ada perubahan harga saham BBTN yang masih di level Rp 935 per saham.

Hanya saja, sama halnya dengan bank pelat merah lainnya, harga saham BBTN juga sedang dalam koreksi dalam sebulan terakhir mencapai sekitar 12,21 persen.

Adapun, harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi satu-satunya bank pelat merah yang menghijau di awal pekan ini. Hingga akhir perdagangan sesi I, harga saham BBRI menguat 0,51 persen menjadi Rp 3.910 per saham.

Baca Juga:   KPK Temukan Dokumen di Mobil Harun Masiku yang Terparkir 2 Tahun di Jakarta

Namun, dalam sebulan terakhir, BBRI masih terkoreksi sekitar 6,68 persen. 

Investor Luar Kurang Merespons

Analis PT Edvisor Profina Visindo Indy Naila berpendapat bahwa investor melihat masih ada spekulasi bahwa program danantara ini merupakan masalah politik yang cukup rumit.

Oleh karenanya, dikhawatirkan bahwa dengan program Danantara yang diyakini akan membantu optimalisasi emiten-emiten perbankan ini tidak berjalan seperti sesuai dengan yang diekspektasikan.

“Dapat juga bergantung pada investor luar yang kurang  baik dalam merespons ini sehingga terjadi outflow,” ujarnya.

Di sisi lain, ia bilang masih ada sentimen-sentimen yang menekan emiten perbankan seperti kekhawatiran akan outlook suku bunga acuan kedepannya yang masih volatil.

Bahkan pertumbuhan kredit juga belum pulih sepenuhnya yaitu berada di level 10,27 persen. 

Dia pun menyebut saham bank yang masih menarik adalah BMRI dan BBRI untuk buy on weakness.

Alasannya, masing-masing emiten tersebut secara valuasi masih rendah.

“Target BMRI di Rp 6.100 sementara untu BBRI di Rp 5.000-Rp 5.075,” ujarnya.

Sementara itu, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan bilang seharusnya peluncuran Danantara menjadi sentimen positif bagi ekosistem perbankan nasional, terutama bagi bank-bank BUMN yang terlibat dalam proyek ini. 

Sayangnya, respons pasar yang cenderung datar atau bahkan negatif menunjukkan bahwa investor masih memiliki sejumlah kekhawatiran.

Salah satu faktornya adalah pro dan kontra di masyarakat mengenai implementasi Danantara. (*)