Nasional

Mencuat Minta Ganti Menkes Budi Gunadi Sadikin, Dianggap tak Berpihak pada Rakyat 

481
×

Mencuat Minta Ganti Menkes Budi Gunadi Sadikin, Dianggap tak Berpihak pada Rakyat 

Sebarkan artikel ini
SOROTAN MENKES BUDI - Kali ini mencuat, meminta ganti Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, berangkat dari anggapan yang tidak berpihak pada rakyat. Muncul petisi desakan agar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin diganti yang kini heboh di media sosial. (HO/BPBD)

TITIKNOL.ID – Kali ini mencuat, meminta ganti Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, berangkat dari anggapan yang tidak berpihak pada rakyat. 

Muncul petisi desakan agar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin diganti yang kini heboh di media sosial.

Memantau dalam petisi di change.org tersebut sudah ada 5.735 orang yang menandatangani.

Petisi dibuat pada 4 Mei 2025 dengan pengusul pertama kali adalah Sekretariat Aliansi Ketahanan Kesehatan Bangsa.

Dalam keterangan di petisi tersebut menyerukan kepada Presiden RI Prabowo Subianto untuk mengganti Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Selama masa jabatannya Menkes dianggap telah mengeluarkan kebijakan dan pernyataan yang tidak berpihak kepada rakyat, tidak berdasar pada data ilmiah dan mencederai nilai-nilai profesionalisme kesehatan.

Salah satu yang disoroti dalam petisi tersebut adalah kebijakan sepihak menghentikan pendidikan dokter spesialis (PPDS), membuat pernyataan tidak pantas dan merendahkan profesi kesehatan, mendukung pembukaan fakultas kedokteran tanpa rencana distribusi SDM, kinerja lemah dalam memperbaiki indikator kesehatan nasional, meminta dan mendorong rakyat membeli asuransi swasta serta promosi kebijakan melalui influencer.

Selain kemunculan petisi tersebut, sebelumnya ratusan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) keluarkan pernyataan resmi merespon kebijakan kesehatan dan pendidikan kedokteran dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Ada 146 guru besar yang menandatangani pernyataan kekecewaan tersebut.

Guru Besar Tetap Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Prof DR dr Iris Rengganis Sp.PD-KAI mengatakan pihaknya merasa prihatin atas kebijakan kesehatan dan pendidikan kedokteran dari Kemenkes.

Kata dr Iris, kebijakan tersebut justru berpotensi menurunkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.

“Kami para Guru Besar FKUI bersama dokter dan akademisi kedokteran di seluruh Indonesia, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kebijakan kesehatan dan pendidikan kedokteran dari Kemenkes yang berpotensi menurunkan mutu pendidikan dokter dan dokter spesialis, sehingga berdampak langsung pada kualitas pelayanan kesehatan masyarakat,” kata dr Iris dalam konferensi pers di Salemba Jakarta Pusat, Jumat (16/5/2025) lalu.

Baca Juga:   INILAH Link dan Cara Cek Hasil Seleksi Administrasi PPPK 2024

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Aji Muhawarman saat dikonfirmasi Tribun melalui pesan Whatsapp terkait kemunculan petisi tersebut belum merespon. Pesan Whatsapp yang dikirim Tribun centang dua namun belum berbalas.

Soroti Obesitas Ganggu Kesehatan

Menkes Budi Gunadi pun memberi penjelasan soal pernyataannya mengenai laki-laki yang memakai celana jeans berukuran 33-34 akan lebih cepat menghadap Allah SWT.

Budi menyebutkan, pernyataan itu memberikan analogi akan berbahayanya visceral fat atau lemak yang menumpuk di rongga perut dan mengelilingi organ penting yang disebabkan oleh makanan-makanan berlemak.

“Gini, ini saya tuh kalau diomongin suka salah. Gini ya, lever ini, kalau lemak itu kita makan, normalnya masuk di bawah kulit subcutaneous. Kalau dari situ lebih, dia nempel ke organ (lain), jantung, lever, ini. Itu namanya visceral fat, ini bahaya,” ujar Budi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (14/5/2025).

Budi memaparkan, lemak yang menempel pada tempat yang tidak seharusnya akan memicu pro-inflamasi sitokin.

Dengan begitu, Budi mengingatkan agar orang-orang menurunkan lemak jahat yang bersarang di organ.

“Jadi memang sebaiknya kita harus menurunkan BMI (body mass index) kita di bawah 24. BMI 24 kan susah ngomongnya, yang lebih gampang adalah lingkar perut laki-laki di bawah 90, lingkar perut wanita di bawah 80,” tutur Budi Gunadi.

“Itu baik buat kesehatan supaya kita tidak ada visceral fat-nya supaya tidak keluar yang pro-inflammatory sitokin itu,” imbuh dia.

Sebelumnya, Budi menyebut laki-laki yang memakai celana jeans ukuran 33 sudah pasti obesitas sehingga berpotensi lebih cepat meninggal dunia.

“Pokoknya laki-laki kalau beli celana jeans masih di atas 32-33. Ukurannya berapa celana jeans? 34-33. Sudah pasti obesitas.

Baca Juga:   ‎Kemenkeu Tegaskan Video Sri Mulyani Sebut Guru Beban Negara adalah Hoaks

Itu menghadap Allah-nya lebih cepat, dibandingkan dengan yang celana jeans-nya 32,” kata Budi.

“Saya bukannya body shaming, tapi memang artinya begitu,” tutur dia. (*)