TITIKNOL.ID, PENAJAM – Sepuluh siswa dari Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dinyatakan lolos seleksi masuk perguruan tinggi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur afirmasi tahun ajaran 2025/2026.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab PPU, Nicko Herlambang mengatakan tahun ini merupakan pencapaian luar biasa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang hanya meloloskan satu hingga empat siswa se-Kabupaten PPU.
Nicko menyampaikan sepuluh siswa tersebut berasal dari tiga sekolah berbeda di PPU.
Separuhnya lima orang berasal dari SMA N 4 Babulu, tiga siswa dari SMA N 2 PPU, dan dua lainnya dari SMA N 1 PPU.
Jurusan yang dituju juga beragam. Mulai dari D4 Teknik Pengelolaan dan Perawatan Alat Berat, S1 Matsmatika, S1 Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, D4 Pembangunan Ekonomi Kewilayahan, D4 Akuntansi Sektor Publik, Kedokteran Gigi, hingga Manajemen Komunikasi.
“Dari 19 siswa yang lolos administrasi, 10 diantaranya berhasil lulus diterima masuk UGM dengan jurusan yang variatif, mulai enginering, pertanian, sampai advokasi,” jelas Nicko, Minggu (20/7/2025).
Ia mengungkapkan, capaian ini sangat luar biasa sesuai dengan harapan bersama untuk ke depannya mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045 di PPU.
“Hasilnya sesuai harapan kita, bahwa memang ke depannya kita berharap kerja sama ini dapat mendukung bagaimana kita mewujudkan Indonesia Emas 2045 di PPU,” kata Nicko.
Ia menambahkan, para siswa ini dijadwalkan segera melakukan daftar ulang dan mengikuti pengenalan lingkungan kampus dalam waktu dekat.
Lebih jauh, Nicko menuturkan bahwa peningkatan signifikan ini tercatat hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
Catatan pentingnya, bahkan sekolah di Babulu yang jarang tersorot, kini malah menghantarkan lima siswanya lolos beasiswa afirmasi ke perguruan tinggi bergengsi.
“Di SMA N 4 Babulu yang orang menganggapnya tertinggal, malah meloloskan separuh jumlah putra-putri daerah kita ke UGM. Kita sadari, memang dari beberapa anak didik yang lolos ini mereka ada yang benar-benar berada dari keluarga kurang mampu. Ada anak petani, pekerja harian lepas, hingga hidupnya kurang berkecukupan,” jelas Nicko.
Hal ini menjadi tantangan daerah terkait biaya hidup siswa karena pemerintah daerah hanya bersedia membatalkan uang kuliah tunggal (UKT) mahasiswa tiap semester.
“Kita sudah siapkan anggarannya, mudahan mencukupi untuk sepuluh putra-putri kita yang lulus ini. Detailnya kita belum hitung karena kan tiap anak berbeda-beda jurusan. UKT kita bayarkan langsung ke kampus. Jadi memang kekurangan kita terkait biaya hidup, ini menjadi tantangan tersendiri,” bebernya.
Sepuluh nama yang diterima di UGM tersebut adalah bukti semangat, kerja keras, dan wajah penuh harapan.
Pemerintah daerah berharap mereka terus menjaga semangatnya dan melanjutkan perkuliahannya dengan baik serta suatu saat nanti dapat kembali untuk berkontribusi pada daerah.
“Harapan kita buat anak-anak didik, yang sudah keterima supaya tetap menjaga semangatnya dan bisa melanjutkan perkuliahannya dengan baik, untuk selanjutnya bisa berkontribusi terhadap pembangunan di PPU,” tandasnya. (Advertorial/TN01)












