TITIKNOL.ID, UJOH BILANG – Sekretaris Daerah Kabupaten Mahakam Ulu, Stephanus Madang, menekankan pentingnya ketepatan data dan sinergi antarinstansi dalam upaya percepatan cakupan jaminan sosial ketenagakerjaan (jamsostek), Rabu (23/7/2025).
Dalam Rakor Percepatan Coverage Jamsostek, Stephanus menegaskan bahwa sektor ketenagakerjaan memiliki domain tersendiri yang berbeda dengan kesehatan, meskipun sebelumnya telah ada perhatian di sektor kesehatan melalui S&P.
Ia mengapresiasi paparan yang disampaikan oleh Fajar Mahda selaku kepala BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang Kutai Barat terkait segmentasi peserta dan visi perlindungan usaha.
Fokus utama Mahakam Ulu saat ini, kata Stephanus, adalah meningkatkan coverage jamsostek.
Namun, ia mengungkapkan sejumlah kendala yang dihadapi di lapangan, seperti keterbatasan jumlah kantor BPJS Ketenagakerjaan dan tenaga kerja yang minim.
“Kami ini kendalanya pertama, kantor BPJS. Kedua, tenaga kerjanya kurang. Bahkan kadang-kadang harus merangkapkan istri untuk bisa menjalankan tugas,” ujarnya, Rabu (23/7/2025).
Menurutnya, hambatan utama bukan pada anggaran, namun pada lemahnya sistem pendataan dan informasi.
Ia menyoroti perlunya pendekatan ilmiah dan metodologis seperti kirokidologi dan pemetaan berbasis alamat yang akurat, agar tidak terjadi ketidaksesuaian data yang bisa berujung pada temuan BPK.
“Ternyata nama yang bersangkutan sudah meninggal, sudah pindah, atau bahkan belum pernah terdaftar,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pelibatan lintas sektor, seperti Bappeda, DTB, BIPNAS hingga dinas teknis lain dalam pembaruan data.
Ia menyebut, data per 18 Juli 2025 mencatat keterlibatan berbagai instansi:
- Dinas PUPR sebanyak 133 orang;
- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan 25 orang;
- Dinas Kesehatan 2 orang;
- dan Bappelitbang 1 orang.
Stephanus meminta agar setiap pihak tidak hanya mengejar ketepatan sasaran, tapi juga memastikan bahwa penerima benar-benar eksis dan layak.
“Sudah tepat sasaran pun, anehnya masih belum sampai kepada orangnya,” tuturnya.
Di akhir paparannya, ia menyentil urgensi sinergi antarbidang, termasuk infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan ketenagakerjaan.
“Karena semua ini beririsan. Kalau tidak dikelola benar, kita bisa kehilangan arah, padahal tujuannya baik,” katanya. (*)












