TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Malam itu, aula Universitas Mulawarman (Unmul) di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur tampak berbeda.
Cahaya lampu yang hangat, iringan musik tradisional, hingga senyum-senyum penuh kebanggaan dari para tamu undangan menggambarkan satu hal, kebersamaan yang tak lekang oleh waktu.
Unmul genap berusia 63 tahun. Sebuah perjalanan panjang sebagai universitas terbesar di Kalimantan yang telah melewati berbagai fase, dari membangun gedung pertama hingga kini merintis jalan menuju universitas kelas dunia.
Dengan mengusung tema “Smart Unmul: Harmony in Life,” Dies Natalis tahun ini terasa lebih dari sekadar perayaan.
Ia menjadi ruang refleksi, tempat berkumpulnya para dosen, mahasiswa, alumni, hingga mitra yang telah menjadi bagian dari perjalanan Unmul selama enam dekade lebih.
Rektor Unmul, Prof. Dr. Ir. Abdunnur, M.Si., IPU., ASEAN Eng, dalam sambutannya mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan momen ini sebagai titik awal lompatan baru.
“Kami tidak ingin hanya besar dalam usia, tapi juga besar dalam dampak. Unmul harus hadir untuk masyarakat, lingkungan, dan peradaban,” ujarnya.
Puncak acara yang dikemas dalam bentuk sarasehan budaya dan refleksi ini memperlihatkan wajah lain dari Unmul, kampus yang tak hanya menekankan keunggulan akademik, tetapi juga menjunjung nilai budaya dan harmoni sosial.
Kehadiran Lembaga Adat Dayak Kenyah, yang bahkan menganugerahkan gelar Warga Kehormatan kepada Rektor Unmul, menjadi bukti bahwa universitas ini tumbuh sejalan dengan masyarakatnya.
Simbol ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bahwa pendidikan tinggi tak bisa dipisahkan dari akar budaya lokal.
Tapi Penuh Makna
Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum sekaligus Ketua Panitia Dies Natalis ke-63, Ir. Sukartingsih, M.Sc., Ph.D., IPU., memaparkan beragam kegiatan yang telah digelar sejak Agustus.
Mulai dari konferensi internasional bersama University of Tokyo, lomba seni dan budaya, hingga program penghijauan dan pengabdian masyarakat.
“Kita ingin semua pihak terlibat. Dosen, mahasiswa, alumni, masyarakat. Unmul adalah milik kita bersama,” ucapnya.
Salah satu kegiatan yang mencuri perhatian adalah jalan sehat yang diikuti lebih dari 5.000 peserta dan aksi menanam 2.300 bibit pohon sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan.
Dies Natalis ke-63 ini juga menjadi pengingat bahwa Unmul sedang menuju visi besar: menjadi universitas berkelas dunia yang tetap membumi.
Tantangan zaman memang tidak mudah. Teknologi, globalisasi, dan tuntutan industri menuntut perubahan cepat.
Namun, Unmul Samarinda memilih bergerak dengan karakter: cerdas, adaptif, dan tetap berakar.
“Kampus unggul bukan soal menara gading, tapi tentang kebermanfaatan. Unmul harus bisa menjawab kebutuhan masyarakat Kalimantan, dan bangsa Indonesia,” tegas Prof. Abdunnur.
Malam sarasehan pun ditutup dengan penampilan seni dari para pimpinan universitas, simbol bahwa kebersamaan bukan hanya kata, tapi nyata dalam harmoni.
Unmul, kampus yang lahir dari semangat pembangunan Kalimantan, kini melangkah dengan visi global.
Dan di balik segala seremoni, satu hal tetap hidup: semangat untuk terus tumbuh, unggul, dan berdampak. (*)












