Nasional

Investasi Jumbo Kereta Cepat Kini Utang Membengkak, AHY Cari Jalan Keluar tanpa APBN

59
×

Investasi Jumbo Kereta Cepat Kini Utang Membengkak, AHY Cari Jalan Keluar tanpa APBN

Sebarkan artikel ini
UTANG KERETA CEPAT - Wujud kereta cepat buatan China. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Infrastruktur dan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tengah memutar otak mencari solusi pendanaan maupun restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau yang dikenal dengan Whoosh. (HO/KCIC)

TITIKNOL.ID, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Infrastruktur dan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tengah memutar otak mencari solusi pendanaan maupun restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau yang dikenal dengan Whoosh.

Setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa APBN tidak akan digunakan untuk menutup utang proyek ini, sejumlah alternatif pun sedang dijajaki lintas kementerian.

“Sejumlah opsi masih dikembangkan. Saya belum bisa menyampaikan secara final karena semuanya masih dihitung dan dikaji,” kata AHY usai Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (20/10/2025).
 
AHY menjelaskan bahwa pembahasan intens telah dilakukan bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), dan PT KAI (Persero).

Mereka mencari jalan keluar agar proyek Whoosh tidak menjadi beban berkepanjangan, terutama dengan rencana ambisius memperpanjang jalurnya hingga ke Surabaya.

“Kita tidak ingin utang yang ada justru menghambat rencana besar pengembangan konektivitas nasional,” tegas AHY.

Setidaknya ada dua skenario yang kini tengah dievaluasi:

  • Restrukturisasi utang melalui BPI Danantara;
  • Kontribusi pendanaan dari APBN, jika nantinya disetujui oleh Presiden.

Namun, sejauh ini, keputusan akhir masih menunggu arahan resmi dari Presiden Prabowo Subianto.

Beban Berat di Lintasan Cepat

Proyek KCJB memang tengah dibayang-bayangi beban finansial yang berat.

Laporan keuangan PT KAI (Persero) mencatat, entitas anak usaha mereka, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), menanggung kerugian hingga Rp 4,195 triliun sepanjang tahun 2024.

Dengan hitungan sederhana, artinya:

Rp 11,493 miliar kerugian per hari.

Dan kerugian tersebut belum berhenti:

Semester I 2025 (Januari–Juli), PSBI mencatat rugi tambahan sebesar Rp 1,625 triliun.

Sebagai pemegang saham mayoritas di PSBI, KAI menguasai 58,53 persen saham, posisi ini diberikan melalui penugasan resmi di era Presiden Joko Widodo.

Baca Juga:   4 Lokasi Event Festival Budaya Nusantara di Kukar Kalimantan Timur, Digelar hingga 13 Juli 2024

Pemegang saham lainnya di konsorsium PSBI adalah:

WIKA: 33,36 persen
Jasa Marga: 7,08 persen
PTPN VIII: 1,03 persen

Keempat BUMN ini: KAI, WIKA, Jasa Marga, PTPN VIII harus menanggung kerugian secara proporsional.

Masa Depan Whoosh

Kereta cepat Whoosh memang menjadi kebanggaan dalam hal teknologi dan kecepatan, tetapi sisi keuangannya kini menjadi tantangan yang harus diselesaikan dengan cermat.

AHY menegaskan, menyelesaikan masalah utang menjadi langkah penting sebelum melangkah ke tahap selanjutnya: jalur cepat Jakarta–Surabaya.

“Kita harus bisa move on ke tahap pengembangan berikutnya, tapi dengan solusi yang berkelanjutan dan tidak memberatkan negara,” pungkas AHY. (*)