TITIKNOL.ID, PENAJAM – Di tengah kebijakan efisiensi anggaran nasional, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru menunjukkan arah berbeda yang patut diapresiasi.
Bupati PPU, Mudyat Noor, berhasil menyalakan semangat baru melalui strategi inovatif yang kini dikenal dengan sebutan “Mudyatomics” konsep pembangunan berbasis efisiensi cerdas, kemandirian, dan pemberdayaan ekonomi rakyat.
Salah satu wujud nyata penerapan strategi ini adalah peluncuran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Mandiri, yang dirancang untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM) sejak usia dini sekaligus menggerakkan ekonomi lokal di seluruh kecamatan.
Program ini menjadi simbol kolaborasi antara gizi, pendidikan, dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Menariknya, semangat MBG Mandiri sejalan dengan arah kebijakan nasional. Program ini memperkuat SDM sejak dini melalui gizi seimbang dan pemberdayaan ekonomi lokal, sejalan dengan delapan prioritas Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025, terutama poin penguatan SDM dan pembangunan dari bawah.
“Inilah cara kami melengkapi kebijakan nasional dengan pendekatan daerah. Kita tidak menunggu bantuan, tapi bergerak mandiri,” ujar Bupati Mudyat Noor.
Program MBG Mandiri dilaksanakan secara otonom menggunakan APBD PPU, dengan dukungan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora), serta komite sekolah dan kantin sebagai pelaksana utama.
Setiap porsi makanan disubsidi Rp12.000, dengan rincian Rp10.000 untuk bahan bergizi dan Rp2.000 untuk pajak.
Selama 28 hari masa uji coba, program ini tidak hanya memastikan kualitas gizi anak tetap terjaga, tetapi juga menghidupkan kembali ekonomi di sekitar sekolah. Uang yang berputar langsung menyentuh warung kecil, pasar lokal, hingga dapur masyarakat.
“Program ini tidak hanya soal gizi, tapi juga ekonomi. Uang yang berputar tidak lari ke kontraktor besar, tapi ke rakyat kecil,” jelas Mudyat Noor.
Saat ini, MBG Mandiri menjangkau 157 PAUD/TK, 108 SD, dan 36 SMP di empat kecamatan: Penajam, Waru, Babulu, dan Sepaku. Dari jumlah tersebut, 27 sekolah sudah diakomodir program nasional melalui Badan Gizi Nasional (BGN), sedangkan sisanya dijalankan mandiri oleh Pemkab PPU.
Komite sekolah mengatur pengadaan bahan baku dari pasar lokal, sementara kantin sekolah menjadi pusat distribusi makanan bergizi. Aktivitas ekonomi baru pun tumbuh di sekitar sekolah, ladang petani kembali produktif, pedagang kecil kembali ramai, dan dapur sekolah berdenyut dengan semangat gotong royong.
Fenomena ini dikenal masyarakat sebagai “Mudyatomics Effect”: ekonomi rakyat bergerak, anak-anak sehat bergizi, dan rasa optimisme tumbuh kembali.
“Pembangunan tidak harus dimulai dari proyek besar. Cukup dari piring anak-anak sekolah. Kalau gizi dan semangat mereka tumbuh, maka masa depan daerah ikut tumbuh,” ujar Mudyat Noor.
Dengan komunikasi intensif bersama Kementerian Keuangan, Kemendikbudristek, dan Kemenkes, Mudyat Noor memastikan langkah PPU tetap sinkron dengan arah kebijakan nasional, namun memiliki karakter lokal yang kuat.
“Inilah semangat Benuo Taka mandiri, tangguh, dan inovatif. Mudyatomics membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan pintu menuju kemandirian,” tutupnya. (*/)
Mudyatomics Effect: Strategi Cerdas PPU Bangun Ekonomi Rakyat di Tengah Efisiensi Anggaran












