BulunganTitiknolKaltara

Dampak Kerusakan Infrastruktur di Perbatasan Kaltara, Terjerat Keterisolasian dan Harga Mahal

220
×

Dampak Kerusakan Infrastruktur di Perbatasan Kaltara, Terjerat Keterisolasian dan Harga Mahal

Sebarkan artikel ini
JALAN KALTARA RUSAK - Kawasan Malinau, Kalimantan Utara perbatasan dengan Malaysia rusak berat, warga harus bersusah payah melewati jalur ini. Kualitas infrastruktur di wilayah perbatasan seringkali menjadi cerminan nyata dari ketidakmerataan pembangunan.

TITIKNOL.ID, TANJUNG SELOR – Kualitas infrastruktur di wilayah perbatasan seringkali menjadi cerminan nyata dari ketidakmerataan pembangunan.

Di Kalimantan Utara (Kaltara), kondisi jalan akses menuju perbatasan Indonesia-Malaysia yang belum sepenuhnya tuntas telah menimbulkan sejumlah masalah serius.

Keterbatasan akses logistik dan tingginya biaya hidup menjadi realitas pahit yang harus ditanggung masyarakat di kawasan terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.

Ketergantungan pasokan kebutuhan pokok dari negara tetangga dan melonjaknya harga barang merupakan dampak langsung dari buruknya konektivitas.

Kondisi ini secara signifikan menghambat peningkatan kesejahteraan warga setempat, yang seharusnya menjadi garda terdepan penjaga kedaulatan.

Menyadari urgensi ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus menggenjot percepatan penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN) yang melintasi Kaltara.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kaltara, Helmi, menegaskan bahwa fokus utama pembangunan saat ini adalah menuntaskan ruas vital yang menghubungkan Malinau–Long Bawan–Long Midang, jalur sepanjang sekitar 232 kilometer.

“Jalur penghubung ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga kunci untuk memutus rantai keterisolasian daerah dan memperkuat arteri logistik di wilayah perbatasan,” ujar Helmi, Minggu (9/11/2025).

Meski progres di lapangan diklaim menunjukkan hasil yang memuaskan, Kementerian PUPR tetap mendorong percepatan, khususnya pada segmen-segmen jalan yang masih berupa tanah atau agregat.

Saat ini, pekerjaan diprioritaskan pada pengaspalan di area padat penduduk, seperti kawasan pasar, sekolah, dan fasilitas publik.

Sementara itu, pada ruas dengan volume lalu lintas harian yang masih rendah, peningkatan dilakukan melalui perkuatan lapisan agregat.

Helmi menambahkan, proyek ini tidak hanya berkutat pada pengerasan badan jalan.

Perhatian besar juga dicurahkan pada pembangunan infrastruktur penunjang krusial, seperti jembatan dan sistem drainase.

Baca Juga:   Pj. Bupati PPU Ajak Umat Muslim Hilangkan Keburukan dan Kesedihan di Lebaran Idul Fitri

Tim Pemantau dan Evaluasi Proyek Strategis Nasional (TPE-PSN) PUPR mencatat masih ada beberapa pekerjaan jembatan yang harus segera dirampungkan, termasuk puluhan jembatan kecil yang tersebar di ruas antara Long Semamu hingga Long Bawan.

Diharapkan, rampungnya seluruh proyek jalan dan jembatan penghubung ini akan mengubah wajah perbatasan.

Penyelesaian infrastruktur ini akan memberikan dampak transformatif.

Terbukanya jalur logistik domestik yang lancar diprediksi mampu menekan harga kebutuhan pokok.

“Mengurangi ketergantungan pasokan dari Malaysia, dan pada akhirnya, mendongkrak taraf hidup masyarakat di perbatasan Kaltara,” pungkasnya. (*)