SamarindaTitiknolKaltim

Produksi Padi Kaltim Melonjak, Ada 3 Daerah Penyokong Bisa jadi Ketahanan Pangan

22
×

Produksi Padi Kaltim Melonjak, Ada 3 Daerah Penyokong Bisa jadi Ketahanan Pangan

Sebarkan artikel ini
KALTIM PANEN PADI - Aktivitas pertanian. Sektor pertanian Kalimantan Timur memasuki awal tahun dengan kabar menggembirakan. Badan Pusat Statistik Kaltim memproyeksikan produksi padi pada 2025 mencapai 272.590 ton gabah kering giling, meningkat 9,19 persen dibandingkan tahun sebelumnya. (paktanidigital.com)

TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Sektor pertanian Kalimantan Timur memasuki awal tahun dengan kabar menggembirakan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim memproyeksikan produksi padi pada 2025 mencapai 272.590 ton gabah kering giling (GKG), meningkat 9,19 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan produksi ini tak lepas dari perluasan lahan panen yang diprediksi mencapai 66.660 hektare, atau sekitar 5,74 persen lebih luas dari tahun 2024.

Menariknya, musim panen diperkirakan bergeser ke Maret 2025, berbeda dari pola tahun sebelumnya yang memuncak di bulan September.

Tiga Daerah Penyokong Utama

Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, menjelaskan bahwa sebagian besar produksi berasal dari tiga kabupaten yang selama ini menjadi sentra padi di Kaltim. Ketiganya menyumbang lebih dari 84 persen total produksi:

Kutai Kartanegara (Kukar) – 110.840 ton GKG
Paser – 70.120 ton GKG
Penajam Paser Utara (PPU) – 48.380 ton GKG

Beberapa daerah juga menunjukkan perkembangan luar biasa. Kutai Barat mencatat lonjakan produksi hampir tiga kali lipat atau sekitar 291 persen, sementara Paser tumbuh 32,58 persen.

Bahkan Kota Balikpapan, yang bukan daerah agraris, mampu meningkatkan produksi hingga 101,82 persen.

Namun, tak semua wilayah menikmati tren positif. Berau mengalami penurunan cukup dalam, mencapai 28,93 persen, akibat berkurangnya luas panen.

Dengan jumlah penduduk sekitar 4 juta jiwa, peningkatan produksi ini menjadi bekal penting bagi ketahanan pangan daerah.

Jika dikonversi, produksi GKG tahun ini diperkirakan menghasilkan sekitar 158.560 ton beras, atau mampu memenuhi sekitar 34 persen kebutuhan konsumsi masyarakat Kaltim.

Yusniar menambahkan, proyeksi tersebut diperoleh melalui metode pemutakhiran data berbasis Kerangka Sampel Area (KSA) yang menggunakan puluhan ribu segmen lahan dan terintegrasi dengan GPS untuk akurasi survei.

Baca Juga:   Prediksi Semen Padang vs Borneo FC Liga 1 2024: Pesut Etam Waspadai Tim Promosi

Dari Lahan Tidur hingga Krisis Petani Muda

Di tengah optimisme tersebut, Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, mengingatkan bahwa peningkatan produksi bukan berarti persoalan pangan telah selesai. Ia menilai masih banyak lahan potensial di Paser, Kutai Kartanegara, dan Kutai Timur yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurutnya, langkah awal yang perlu dilakukan pemerintah adalah pemetaan menyeluruh untuk mengidentifikasi lahan produktif yang bisa segera digarap, disusul dengan pengujian kesuburan tanah dan pengelolaan yang tepat.

“Kita harus tahu lahan mana yang benar-benar siap dikelola. Setelah dipetakan, kualitas tanahnya harus diuji agar pengembangan bisa tepat sasaran,” ujarnya.

Ia juga menyoroti minimnya minat generasi muda di sektor pertanian, yang dinilai menjadi hambatan untuk menuju pertanian modern dan berbasis teknologi.

“Kaltim butuh lebih banyak petani muda yang adaptif dan melek teknologi. Tanpa itu, transformasi pertanian akan berjalan lambat,” tuturnya.

Ananda berharap pemerintah daerah dapat memperkuat komitmen dan strategi pengembangan pertanian guna menjaga momentum positif yang telah dicapai. (*)