Gajah Bukan Alat Berat! Selebriti Sherina Munaf buka suara. Ia mengirim ‘Surat Terbuka’ kepada BKSDA Aceh, menyoroti keputusan darurat yang dianggap tidak etis dan tidak aman bagi satwa cerdas. Simak solusi yang ditawarkan Sherina.
TITIKNOL.ID, JAKARTA – Penyanyi dan aktris kondang, Sherina Munaf, melontarkan kritik keras terhadap Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh atas penggunaan gajah sebagai alat bantu pembersihan jalan dari puing kayu pascabencana banjir di Pidie Jaya.
Melalui serangkaian unggahan di akun Instagram pribadinya, Sherina menilai keputusan darurat tersebut tidak hanya tidak etis, tetapi juga tidak aman bagi satwa yang habitatnya justru sering menjadi korban perusakan oleh manusia.
Sorotan tajam itu diperkuat dengan sebuah foto yang menampilkan seekor gajah sedang menarik batang kayu besar, disertai tulisan tegas: “Gajah Bukan Alat Berat!”
Merusak Rumah Mereka
Sherina menyoroti ironi mendalam yang terjadi di lokasi bencana. Ia mengungkapkan rasa keprihatinan atas nasib satwa tersebut.
“Sudahlah manusia rusak rumah mereka, mereka pula yang harus membereskan semuanya,” tulis Sherina, yang secara halus menyindir aktivitas perusakan hutan yang memicu konflik gajah dan manusia.
Meskipun menyadari tekanan yang dihadapi petugas di lapangan, Sherina menegaskan kembali bahwa gajah adalah makhluk yang cerdas, sosial, dan penuh perasaan.
“Kami menyampaikan keprihatinan mendalam atas penggunaan gajah untuk membantu pembersihan jalan pasca bencana di Aceh. Namun, gajah bukan alat berat. Mereka adalah makhluk cerdas, sosial, dan penuh perasaan, yang justru selama ini paling terdampak ketika habitat mereka hilang dan terfragmentasi,” bunyi kutipan dari Surat Terbuka untuk BKSDA Aceh yang ia unggah.
Prioritaskan Alat Berat Resmi
Di tengah kritik tersebut, Sherina juga menyampaikan apresiasi bagi inisiatif dan jiwa kemanusiaan masyarakat sipil yang bahu-membahu dalam penanganan bencana.
“The country, the government should be grateful masyarakat sipilnya punya inisiatif, kepedulian dan jiwa kemanusiaan sebesar ini. Ini nilai plus sebuah negara lho. Gotong-royong bahu membahu dan sat set bergerak,” tulisnya.
Lebih dari sekadar kritik, Sherina bersama komunitasnya juga menawarkan sejumlah solusi etis kepada BKSDA Aceh dan instansi terkait, yang disarikan dari unggahan temannya, Indira Diandra.
Solusi tersebut meliputi:
Prioritas Alat Berat:
Mengutamakan penggunaan alat berat resmi dari instansi terkait seperti BPBD, PU, atau TNI.
Keterlibatan Manusia:
Melibatkan relawan dan organisasi kemanusiaan untuk pengerahan tenaga massal.
Fokus BKSDA:
Memfokuskan peran BKSDA pada pemulihan habitat dan mitigasi konflik antara manusia dan satwa, alih-alih menjadikannya alat evakuasi.
Sherina berharap agar rencana darurat ini dapat ditinjau kembali demi kebaikan semua makhluk.
Ia menutup unggahannya dengan ucapan terima kasih kepada para petugas di garis depan, seraya berharap setiap langkah membawa pada kehidupan yang lebih manusiawi bagi manusia dan satwa. (*)






