Berau sedang berada di titik nadir ekonomi, terjepit di peringkat empat terbawah regional. Saat ‘emas hitam’ mulai kehilangan tajinya di pasar global, mampukah pariwisata menjadi sekoci penyelamat? Inilah strategi berani Bupati Sri Juniarsih
TITIKNOL.ID, TANJUNG REDEB – Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, memberikan atensi serius terhadap performa ekonomi daerah yang kini tengah lesu.
Berada di peringkat empat terbawah secara regional, perlambatan ekonomi ini memicu Pemerintah Kabupaten Berau untuk segera merombak kebijakan fiskal dan arah pembangunan masa depan.
Bupati Sri Juniarsih mengungkapkan bahwa ketergantungan yang terlalu tinggi pada sektor primer, seperti sumber daya alam, menjadi penyebab utama. Sektor ini dinilai sangat rentan karena nasibnya ditentukan oleh fluktuasi pasar global.
“Secara data ekonomi, daerah kita memang mengalami perlambatan. Ini menjadi catatan penting bagi seluruh dinas terkait agar kondisi serupa tidak terulang di masa depan,” tutur Bupati Sri Juniarsih yang dikutip Titiknol.id, Senin (22/12/2025).
Terjebak dalam Struktur Ekonomi yang Monoton
Menurut Bupati Sri Juniarsih, struktur ekonomi Berau selama ini kurang bergerak dinamis karena didominasi oleh sektor-sektor konvensional.
Akibatnya, ketika terjadi tekanan eksternal atau guncangan ekonomi global, ruang gerak daerah menjadi sangat terbatas.
“Penyelenggaraan ekonomi kita masih didominasi sektor yang itu-itu saja. Inilah yang membuat pertumbuhan kita tidak bisa berlari cepat,” jelasnya.
Pariwisata Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi
Sebagai solusi jangka panjang, Bupati Sri Juniarsih mendorong diversifikasi ekonomi secara bertahap.
Targetnya jelas, mempercepat transisi menuju sektor pariwisata sebagai pilar pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan.
“Kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada sumber daya alam yang bisa habis. Kita harus mulai menyeimbangkan dan memperluas sumber pertumbuhan melalui pariwisata,” ujar Sri Juniarsih.
Ia optimistis kekayaan alam Berau yang sudah mendunia mampu menjadi pengungkit ekonomi.
Baginya, pariwisata adalah efek domino yang akan menghidupkan sektor lain, mulai dari UMKM, jasa transportasi, hingga industri kreatif.
Menyiasati Celah Fiskal yang Menyempit
Di sisi lain, tantangan juga datang dari terbatasnya ruang fiskal daerah.
Penyesuaian kebijakan pusat dan pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH) memaksa pemerintah daerah untuk lebih cerdik dalam mengelola anggaran.
“Ketika dana bagi hasil berkurang, kita dituntut lebih bijak. Semua potensi yang ada harus dimanfaatkan secara optimal agar roda ekonomi tetap berputar meski di bawah tekanan fiskal,” tuturnya.
Bupati menekankan bahwa upaya ini bukanlah pekerjaan instan.
Namun, dengan kolaborasi lintas sektor dan perencanaan yang matang, ia yakin Berau bisa keluar dari bayang-bayang perlambatan menuju ekonomi yang lebih kuat dan beragam.
“Kita harus memulai langkah besar ini sekarang, demi pembangunan Berau yang lebih stabil dan berkelanjutan ke depan,” pungkasnya. (*)












