Ternyata bukan cuma soal stok, tapi ada rantai panjang dari pulau seberang yang memicu tingginya harga di pasar kita. DPPKUKM Kaltim pun turun tangan dengan dua strategi khusus untuk menekan harga. Apa saja langkahnya? Simak penjelasan lengkapnya di sini
TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Persoalan harga beras yang masih bertengger di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) di Kalimantan Timur menjadi perhatian serius pemerintah.
Padahal HET di Kaltim diberlakukan punya tujuan yakni untuk melindungi konsumen agar pedagang tidak menaikkan harga secara sewenang-wenang dan langkah menjaga inflasi demi stabilitas ekonomi.
Tapi lagi-lagi, di balik angka-angka yang naik di atas HET, ternyata ada rantai panjang distribusi dan ketergantungan pasokan yang menjadi tantangan utama.
Demikian dibeberkan oleh Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (DPPKUKM) Kaltim, Heni Purwaningsih yang dikutip Titiknol.id pada Rabu (24/12/2025).
menjelaskan bahwa pihaknya bersama Satgas Pangan tidak tinggal diam. Saat ini, pengawasan dilakukan secara menyeluruh dalam dua tahap penting.
Langkah awal yang diambil pemerintah adalah memastikan konsumen mendapatkan kualitas yang layak. “Kami harus memastikan apa yang tertulis di label kemasan benar-benar sesuai dengan isi di dalamnya,” tutur Heni di Samarinda.
Melalui pendekatan edukatif kepada para distributor dan pedagang, pemerintah ingin menjamin bahwa beras yang masuk ke Bumi Etam tidak hanya sekadar tersedia, tapi juga bermutu sesuai pesanan.
Respons positif dari para pelaku usaha memberikan angin segar bagi kelancaran pasokan pangan di Kalimantan Timur.
Tantangan Daerah Non-produsen
Memasuki tahap kedua pengawasan, fokus beralih pada harga. Heni memaparkan bahwa HET untuk beras medium di Kaltim berada di angka Rp14.000 per kilogram.
Sementara untuk beras premium ditetapkan Rp15.400 per kilogram. Namun, realita di pasar sering kali berkata lain.
Mengapa harga sulit ditekan? Heni mengungkapkan fakta bahwa Kalimantan Timur bukanlah daerah produsen utama.
Meski memiliki sentra beras lokal, jumlah produksinya belum mampu mengimbangi tingginya kebutuhan masyarakat.

Kondisi ini membuat Kaltim sangat bergantung pada daerah pemasok seperti:
- Sulawesi Barat;
- Sulawesi Selatan;
- dan Jawa Timur.
Harga gabah kering di tingkat petani dari daerah pemasok sudah tinggi. Jika ditambah biaya giling, transportasi lintas pulau, hingga biaya bongkar muat.
“Maka akumulasi komponen itulah yang membentuk harga beras saat sampai di Kaltim,” jelas Heni secara rinci.
Rantai logistik yang panjang dan biaya operasional dari daerah asal inilah yang menjadi alasan utama mengapa harga beras di Kaltim masih relatif sulit menyentuh angka HET. Pemerintah kini terus berupaya mencari titik efisiensi agar beban harga tersebut tidak sepenuhnya merosot ke pundak konsumen.
Soal mengapa HET di Kalimantan Timur berbeda dengan harga di Jawa. Penjelasanya, pemerintah membagi wilayah HET berdasarkan biaya logistik.
Provonsi Kalimantan Timur masuk dalam zona yang HET-nya lebih tinggi dibandingkan Pulau Jawa atau Sulawesi.
Contoh saja, jika di Jawa HET beras medium adalah Rp12.500, di Kaltim bisa mencapai Rp14.000. Hal ini di antaranya karena adanya tambahan biaya transportasi kapal dan bongkar muat di pelabuhan.
(*)











