TenggarongTitiknolKaltim

Penyebab Ratusan Hektar Sawah di Kukar Lumpuh, Bupati Aulia tak Tinggal Diam

93
×

Penyebab Ratusan Hektar Sawah di Kukar Lumpuh, Bupati Aulia tak Tinggal Diam

Sebarkan artikel ini
BANJIR DI KUKAR - Ilustrasi genangan banjir di Kenohan, Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, Minggu 7 Desember 2025. Ratusan hektar sawah di Kutai Kartanegara yang selama bertahun-tahun menyerupai rawa akibat terjangan banjir. (HO/Warga Kenohan)

Bayangkan, 4 tahun lebih petani di Loa Ipuh hanya bisa melihat sawahnya jadi rawa. Gagal panen berkali-kali karena irigasi lumpuh. Akhirnya, tahun depan ada harapan baru lewat anggaran miliaran rupiah. Simak detail penyelamatannya

TITIKNOL.ID, TENGGARONG – Ratusan hektar sawah di Kutai Kartanegara yang selama bertahun-tahun menyerupai rawa akibat terjangan banjir, kini mulai menemukan titik terang.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar secara resmi memulai “operasi penyelamatan” untuk memulihkan produktivitas lahan petani yang sempat mati suri.

Di kawasan Rapak Rabau, Kelurahan Loa Ipuh, pemandangan menyedihkan terlihat jelas.

Sekitar 200 hektar lahan padi tak lagi mampu beroperasi sejak 2019 karena genangan air yang menetap dan rusaknya urat nadi irigasi. Para petani pun terpaksa gigit jari setelah berkali-kali dihantam kegagalan panen.

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini bukanlah membuka hutan untuk lahan baru, melainkan menghidupkan kembali apa yang sudah ada.

“Kami tidak bicara soal perluasan, tapi optimalisasi. Ada sekitar 4.000 hektar lahan sawah di Kukar yang saat ini tidak produktif, termasuk di Loa Ipuh ini. Solusinya hanya satu, intervensi teknis melalui normalisasi total aliran air,” tegas Bupati Aulia saat meninjau lokasi, Oktober lalu.

Langkah konkret pun telah disiapkan. Dengan estimasi anggaran Rp8 miliar hingga Rp10 miliar yang diproyeksikan masuk dalam APBD 2026, Dinas PU Kukar akan dikerahkan untuk membedah jaringan irigasi primer dan sekunder yang selama ini tersumbat.

Targetnya ambisius namun terukur, dalam 1 sampai 2 tahun ke depan, lahan-lahan yang ‘tenggelam’ harus kembali hijau oleh hamparan padi.

Dari total 17 ribu hektar sawah di Kukar, baru sekitar 13 ribu hektar yang produktif.

Baca Juga:   Keutamaan Puasa Sunnah Syaban 2024, Berikut Niat dan Tata Caranya

Artinya, terdapat potensi besar untuk pemulihan tanpa memperluas area baru.

Pemkab Kutai Kartanegara merencanakan langkah teknis berupa:

  • Normalisasi saluran air,
  • Perbaikan jaringan irigasi primer dan sekunder,
  • Pekerjaan lapangan melalui Dinas Pekerjaan Umum Kukar.

Program ini telah masuk tahap finalisasi dan ditargetkan masuk APBD 2026, dengan estimasi biaya Rp8-10 miliar.

Permasalahan serupa juga ditemukan di wilayah Jahab, yang kini masuk dalam daftar penanganan prioritas Pemkab akibat irigasi yang tidak berfungsi optimal.

Segera Penuhi Kebutuhan Irigasi

Anggota DPRD Kukar Fatlon Nisa menyatakan dukungan penuh terhadap langkah cepat Bupati.

“Pak Bupati respon cepat. Kebutuhan irigasi primer–sekunder akan terakomodir tahun depan,” ujarnya.

DPRD menegaskan bahwa program ini tidak boleh dilakukan secara bertahap dan harus tuntas agar petani segera kembali menanam.

Ketua Gapoktan setempat mengungkapkan bahwa saluran irigasi sudah lama tidak terpelihara.

Akibatnya, genangan air meluas dan sawah tidak dapat difungsikan, bahkan beberapa petani gagal panen sejak empat tahun terakhir.

Melihat kondisi tersebut, Pemkab Kukar menargetkan sawah di Loa Ipuh dapat kembali produktif dalam 1 tahun sampai 2 tahunsetelah perbaikan dilakukan. 

Langkah ini sejalan dengan fokus pemerintah daerah pada:

  • Penguatan pengairan,
  • Pembangunan jalan usaha tani,
  • Pemulihan produksi pangan lokal.

(*)