Apa jadinya jika paru-paru kota tak lagi mampu menyaring udara dan menahan air? Luka di DAS Tempadung menjadi pengingat bahwa pembangunan seringkali menyisakan celah bagi kehancuran lingkungan. Mari menengok kondisi terkini Hutan Lindung Sungai Wain yang kian terhimpit
TITIKNOL.ID, BALIKPAPAN – Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) bukan sekadar kumpulan pohon bagi warga Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.
Ia adalah benteng terakhir, penyaring udara, sekaligus tandon air raksasa yang menjaga kota ini dari dahaga dan banjir.
Namun, kabar pahit menyeruak di penghujung Desember 2025. Benteng itu rupanya telah jebol.
Operasi tangkap tangan yang dilakukan tim gabungan pada 17 Desember lalu menyingkap tabir gelap di dalam kawasan konservasi tersebut.
Sekitar 30 hektare lahan hijau, luasan yang setara dengan puluhan lapangan sepak bola, ditemukan dalam kondisi gundul.
Ironisnya, di sana petugas mendapati dua unit buldoser yang tengah bekerja “merapikan” kehancuran tersebut.
Peringatan yang Terabaikan
Bagi Pokja Pesisir, pemandangan pilu di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tempadung ini bukanlah kejutan besar.
Ibarat melihat bom waktu yang akhirnya meledak, mereka mengaku telah berulang kali menyuarakan kegelisahan dalam berbagai forum diskusi.
“Perambahan seluas ini tidak mungkin terjadi dalam semalam,” ujar Husen Suwarno dari Pokja Pesisir dengan nada getir.
Baginya, kehadiran alat berat di jantung hutan lindung tanpa terdeteksi adalah sebuah teka-teki besar yang menyakitkan.
Bagaimana mungkin “suara” buldoser kalah nyaring dibanding sistem pengawasan yang ada?
Ada sisi dilematis yang muncul seiring deru pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Terbukanya jalan tol penghubung Pulau Balang memang mempercepat akses, namun di sisi lain, ia seolah membuka “kotak pandora”.
Tanpa zona penyangga (buffer zone) yang kuat, akses ini menjadi celah lebar bagi para perambah untuk masuk lebih dalam ke jantung HLSW.
Catatan Pokja Pesisir bahkan lebih mencekam, mereka mendeteksi aktivitas ini sudah mulai merayap sejak tahun 2022.
Pohon demi pohon tumbang, papan klaim lahan berganti nama, hingga akhirnya 30 hektare hutan berubah wajah menjadi hamparan tanah terbuka.
Bencana yang Mengintai
Husen mengingatkan bahwa luka di HLSW adalah luka bagi seluruh warga Balikpapan. Deforestasi bukan sekadar hilangnya pepohonan, melainkan awal dari bencana ekologis yang lebih nyata.
Krisis iklim, ancaman kekeringan saat kemarau, hingga banjir yang kian sering menyapa sudut-sudut kota adalah harga mahal yang harus dibayar akibat hilangnya tutupan hutan.
Kini, pertanyaannya bukan lagi soal siapa yang tertangkap, melainkan sejauh mana kita mampu menjaga sisa hutan yang ada.
Harapan kini tertumpu pada langkah restorasi di sepanjang jalur tol dan penguatan pengawasan yang tak lagi berjarak.
Sebab, jika jantung Balikpapan ini terus dibiarkan terluka, kitalah yang kelak akan kesulitan bernapas di rumah sendiri.
(*)












