Bubar jalan buat kapal yang suka melintas sembunyi-sembunyi. Pelindo Regional 4 resmi berlakukan pengawasan 24 jam nonstop di Jembatan Mahulu. Tak hanya tugboat tambahan, asuransi jembatan kini juga disiapkan demi jaga aset vital Samarinda. Simak strategi barunya di sini
TITIKNOL.ID, SAMARINDA – PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 4 mengambil langkah konkret merespons rentetan insiden kapal tongkang yang menghantam Jembatan Mahakam Hulu (Mahulu).
Mulai saat ini, sistem pengawasan dan pemanduan kapal di perairan Sungai Mahakam diperketat dengan skema pemantauan penuh selama 24 jam nonstop.
Langkah ini diambil setelah evaluasi mendalam atas dua insiden yang terjadi pada 23 Desember 2025 dan 4 Januari 2026.
General Manager Pelindo Regional 4 Samarinda, Capt. Suparman, menegaskan bahwa Jembatan Mahulu adalah objek vital yang perlindungannya tidak bisa ditawar.
“Evaluasi ini menjadi momentum untuk membenahi celah yang ada. Ke depan, fungsi pemanduan akan berjalan sepanjang waktu, 24 jam penuh, tanpa terbatas jam operasional tertentu lagi,” tegas Capt. Suparman.
Guna mengantisipasi kapal-kapal yang mencoba melintas secara sembunyi-sembunyi di luar jam pandu resmi, Pelindo akan memaksimalkan komunikasi radio dan perangkat pemantauan real-time.
Tak bergerak sendiri, Pelindo juga menggandeng BUMD Kaltim, PT Kaltim Melati Bhakti Satya (MBS).
Kerja sama ini mencakup penyediaan armada kapal tunda (tugboat) tambahan serta pemasangan kamera CCTV di titik-titik rawan sekitar jembatan untuk memantau pergerakan kapal secara lebih presisi.
Proteksi Finansial Melalui Skema Asuransi
Selain penguatan teknis di lapangan, perlindungan terhadap infrastruktur negara ini juga diperkuat dari sisi finansial melalui penerapan skema asuransi jembatan.
Dalam kesepakatan ini, Pelindo berperan sebagai penyedia biaya, sementara teknis pelaksanaannya akan dikelola oleh pihak Perusda.
“Koordinasi lintas instansi harus dilakukan secara terbuka. Kami melakukan perbaikan sesuai aturan yang berlaku dengan target utama mencapai zero accident,” tambahnya.
Capt. Suparman mengakui bahwa meskipun pengawasan selama ini telah berjalan, insiden baru-baru ini menjadi pengingat bahwa standar keamanan harus ditingkatkan secara signifikan demi melindungi aset daerah serta keselamatan masyarakat pengguna jalan di Samarinda.
“Selama ini pengawasan sudah ada, namun kami menilai perlu peningkatan standar yang lebih tinggi,” pungkasnya.
(*)












