Penajam

Sawah di Babulu Laut Menyusut 50 Persen dalam 10 Tahun, Alih Fungsi ke Sawit Jadi Pilihan Pahit

48
×

Sawah di Babulu Laut Menyusut 50 Persen dalam 10 Tahun, Alih Fungsi ke Sawit Jadi Pilihan Pahit

Sebarkan artikel ini

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, sekitar 400 hektare lahan sawah hilang—setara dengan separuh dari total hamparan semula yang mencapai 800 hektare

ALIH FUNGSI LAHAN – Desa Babulu Laut di Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), mengalami penyusutan lahan sawah yang sangat signifikan. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, sekitar 400 hektare lahan sawah hilang—setara dengan separuh dari total hamparan semula yang mencapai 800 hektare. (TITIKNOL.ID/CINDY)

TITIKNOL.ID,PENAJAM – Desa Babulu Laut di Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), mengalami penyusutan lahan sawah yang sangat signifikan.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, sekitar 400 hektare lahan sawah hilang—setara dengan separuh dari total hamparan semula yang mencapai 800 hektare.

Kepala Desa Babulu Laut, Sahudi, mengungkapkan bahwa lahan-lahan produktif tersebut kini telah bersalin rupa menjadi perkebunan kelapa sawit secara bertahap.

Menurut Sahudi, masifnya alih fungsi lahan ini bukan tanpa alasan. Para petani di masa lalu merasa terjebak dalam ketidakpastian saat mengandalkan tanaman padi.

Risiko usaha tani padi dinilai terlalu tinggi dengan keuntungan yang minim.

“Dulu petani sering merugi. Selain masalah hama dan keterbatasan pupuk, harga gabah sering kali anjlok saat musim panen tiba. Jika gagal panen, petani tidak punya solusi,” ujar Sahudi, Minggu (1/2/2026).

Kondisi tersebut memaksa petani beralih ke komoditas sawit yang dianggap memberikan kepastian pendapatan bulanan yang lebih stabil dibandingkan padi.

Meski penyusutan lahan sudah terlanjur luas, Sahudi mengakui adanya perubahan positif dalam tata kelola pangan beberapa tahun terakhir.

Kehadiran pemerintah melalui Bulog dalam menyerap gabah petani menjadi angin segar bagi sawah yang masih bertahan.

Saat ini, gabah petani Babulu Laut diserap dengan harga sesuai ketetapan Badan Pangan Nasional (Bapanas), yakni Rp6.500 per kilogram untuk Gabah Kering Panen (GKP).

“Sekarang sudah ada kepastian pembeli dan harga. Kondisi ini jauh berbeda dibandingkan satu dekade lalu,” tambahnya.

Baca Juga:   Pj Bupati PPU Ajak Warga Tanam Pohon, Ini Tujuannya

Ia meyakini, andai dukungan berupa kemudahan akses pupuk dan stabilitas harga telah diterapkan sejak lama, alih fungsi lahan di Babulu Laut mungkin tidak akan separah saat ini.

Sahudi berharap dukungan pemerintah terus konsisten agar sisa lahan sawah di desanya tetap terjaga demi keberlangsungan pangan di Nusantara.(*)