Hanya karena alat tulis dan tekanan ekonomi, seorang anak kehilangan harapan. DPR RI Dapil Kaltim, Hetifah kini bersuara lantang, berhenti jadikan birokrasi alasan untuk membiarkan siswa menderita
TITIKNOL.ID, JAKARTA – Tragedi pilu seorang siswa yang mengakhiri hidup akibat tekanan ekonomi di Ngada memicu reaksi keras dari para legislator, termasuk perwakilan rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Timur di Senayan.
Mereka mendesak agar sekolah tidak hanya menjadi tempat mengejar angka, tetapi menjadi ruang aman yang peka terhadap kondisi psikologis dan finansial peserta didik.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa ketiadaan alat tulis hingga beban kebutuhan dasar bisa menjadi pemicu krisis mental yang fatal bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Anggota DPR RI Dapil Kaltim, Hetifah, menekankan pentingnya respons cepat di tingkat sekolah.
Mereka mendorong adanya reformasi dalam pemanfaatan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) agar lebih adaptif.
“Kepala sekolah harus diberikan kewenangan lebih untuk menggunakan dana BOS secara darurat. Jika ada siswa yang bahkan tidak mampu membeli alat tulis, sekolah harus hadir saat itu juga tanpa terhambat birokrasi yang berbelit,” tegas Hetifah, legislator dalam koordinasinya di Komisi X.
3 Langkah Konkret Pencegahan Krisis Siswa
Untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang, DPR RI mengusulkan tiga langkah strategis kepada pemerintah:
- Guru sebagai Detektor Dini:
Guru tidak hanya mengajar, tapi harus dibekali kemampuan mengenali tanda-tanda distres. Siswa yang tiba-tiba murung, menarik diri, atau tidak memiliki perlengkapan belajar harus dipandang sebagai sinyal butuh bantuan, bukan pelanggaran disiplin.
- Sistem Konseling Proaktif:
Layanan Bimbingan Konseling (BK) harus menjemput bola. Pelatihan psychological first aid (pertolongan pertama psikologis) wajib diperkuat agar sekolah menjadi garda terdepan perlindungan mental anak.
Mekanisme Bantuan Darurat: Menciptakan sistem bantuan yang cepat untuk kebutuhan mendasar siswa dari keluarga miskin agar tidak ada anak yang merasa “berjuang sendirian”.
Pendidikan Harus Menumbuhkan Harapan
Legislator Dapil Kaltim menegaskan bahwa perlindungan anak adalah prioritas utama. Di wilayah seperti Kalimantan Timur yang memiliki tantangan geografis dan ekonomi yang beragam, kepekaan sistem pendidikan sangat diuji.
Pendidikan dasar seharusnya menjadi fondasi yang memerdekakan dan menumbuhkan harapan, bukan justru menjadi sumber ketakutan.
“Karena persoalan ekonomi atau kurangnya kepekaan sistem,” tegas Hetifah, perwakilan Komisi X DPR RI.
DPR RI berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan lintas kementerian agar sekolah benar-benar menjadi ruang aman yang membahagiakan bagi seluruh anak Indonesia, dari kota besar hingga pelosok Kalimantan Timur. (*)












