TarakanTitiknolKaltara

BPOM Pastikan Takjil di Kaltara Bebas Bahan Berbahaya, Hasil Uji 80 Sampel Negatif

14
×

BPOM Pastikan Takjil di Kaltara Bebas Bahan Berbahaya, Hasil Uji 80 Sampel Negatif

Sebarkan artikel ini
KULINER DI SAMARINDA - Menu kuliner ikan haruan. Hadirnya bulan suci Ramadan bukan sekadar momentum untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga menjadi pintu gerbang menjemput berkah ekonomi kuliner Samarinda. (Gemini Ai)

Warga Kalimantan Utara bisa sedikit bernapas lega saat berburu takjil. Hingga pekan pertama Ramadan 1447 Hijriah, BPOM Tarakan memastikan seluruh sampel makanan yang diuji bebas dari zat berbahaya seperti formalin dan boraks. Simak hasil uji lengkapnya di sini

TITIKNOL.ID, TARAKAN – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Tarakan membawa kabar baik bagi warga Kalimantan Utara di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. 

Berdasarkan hasil pengawasan lapangan hingga pekan pertama, BPOM memastikan takjil yang beredar di wilayah Kaltara aman dari kandungan bahan kimia berbahaya.

Kepala BPOM Tarakan, Iswadi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan uji petik di lima kabupaten dan kota.

Hingga saat ini, sebanyak 80 sampel makanan dan minuman berbuka puasa telah diuji secara ketat dan seluruhnya dinyatakan negatif dari zat berbahaya atau zero case.

“Kami sudah melaksanakan pengawasan sejak minggu pertama Ramadan. Total sementara ada 80 sampel takjil yang diambil dari empat wilayah di Kaltara, dan hasilnya alhamdulillah semua negatif,” ujar Iswadi saat ditemui media, Rabu (4/3/2026).

Rincian Sebaran Uji Sampel

Pengujian dilakukan secara kolaboratif bersama lintas sektor, termasuk Dinas Kesehatan, menggunakan metode rapid test.

Berikut adalah rincian sebaran sampel yang telah diperiksa:

Tanjung Selor: 30 sampel
Kota Tarakan: 20 sampel
Kabupaten Malinau: 15 sampel
Kabupaten Tana Tidung: 15 sampel

Satu daerah lainnya dijadwalkan akan segera menyusul untuk memastikan cakupan pengawasan merata di seluruh Kaltara.

Waspada Formalin hingga Pewarna Tekstil

Iswadi menjelaskan bahwa fokus pengawasan menyasar empat bahan kimia yang sering disalahgunakan dalam pangan, yakni formalin, boraks, Rhodamin B, dan Metanil Yellow.

Formalin biasanya ditemukan pada mi basah, tahu, atau ikan agar lebih awet. Boraks untuk pengenyal.

Baca Juga:   CATAT! Jadwal Libur Nasional dan Cuti Bersama Idul Adha 2024 Menurut SKB 3 Menteri

Sedangkan Rhodamin B dan Metanil Yellow adalah pewarna tekstil yang sering menggoda mata karena warnanya mencolok.

“Padahal sangat berbahaya bagi tubuh,” tegasnya.

Ia mengingatkan para pelaku UMKM bahwa pangan siap saji seperti takjil seharusnya diproduksi dan habis pada hari yang sama.

Sehingga tidak memerlukan pengawet apa pun, apalagi bahan kimia industri.

Apresiasi Higienitas Pedagang di Tarakan

Selain aspek kimia, BPOM juga menyoroti masalah mikrobiologi terkait kebersihan dan sanitasi.

Iswadi memberikan apresiasi khusus kepada para pedagang takjil di Tarakan yang dinilai sudah memiliki kesadaran tinggi akan kebersihan.

Dibandingkan daerah lain yang pernah saya kunjungi, di sini jauh lebih baik. Banyak takjil sudah dikemas per porsi dan tertutup rapat.

“Ini sangat membantu menjaga higienitas dan meminimalkan risiko kontaminasi,” tambahnya.

Meski saat ini belum ditemukan pelanggaran, BPOM menegaskan bahwa langkah awal jika ditemukan kasus adalah melalui pembinaan.

Pihaknya akan menelusuri apakah pelanggaran terjadi karena ketidaktahuan atau kesengajaan.

“Kami terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah karena pangan siap saji adalah kewenangan utama mereka,” tuturnya.

“Harapannya, kondisi aman ini bertahan hingga akhir Ramadan nanti,” pungkas Iswadi. (*)