Era baru dimulai di Teheran. Di tengah duka mendalam dan bayang-bayang serangan Israel-AS, Mojtaba Khamenei resmi naik takhta menjadi Pemimpin Tertinggi Iran ketiga. Penunjukan putra Ali Khamenei ini bukan sekadar suksesi keluarga, melainkan sinyal keras Iran terhadap peta konflik global yang kian memanas
TITIKNOL.ID, TEHERAN – Sejarah baru tercipta di Republik Islam Iran. Majelis Pakar Iran resmi menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) ketiga Iran pada Minggu (8/3/2026).
Mojtaba (56) terpilih secara bulat oleh 88 ulama Majelis Pakar untuk menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan Israel-AS pada akhir Februari lalu.
Penunjukan ini menandai transisi kekuasaan paling krusial sejak Revolusi Islam 1979.
Banyak yang bertanya, seberapa kuat posisi Pemimpin Tertinggi di Iran dibandingkan Presiden?
Mengutip data dari PBS dan PressTV, berikut adalah anatomi kekuasaan di Iran yang kini berada di bawah kendali Mojtaba Khamenei:
1. Pemimpin Tertinggi: Pemegang Komando Mutlak
Berbeda dengan negara lain di mana Presiden adalah penguasa tertinggi, di Iran, kendali penuh ada di tangan Supreme Leader. Mojtaba kini memiliki wewenang untuk:
Menentukan arah kebijakan dalam dan luar negeri secara final.
Menjabat sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.
Mengendalikan penuh operasi intelijen dan keamanan.
Memiliki hak eksklusif untuk menyatakan perang atau damai.
Mengangkat kepala peradilan hingga pimpinan media nasional.
2. Presiden: Pejabat Tertinggi Kedua
Saat ini, Presiden Iran dijabat oleh Masoud Pezeshkian (sejak Juli 2024). Meski memiliki profil publik yang tinggi dan bertanggung jawab atas kebijakan ekonomi, kekuasaan Presiden dibatasi oleh konstitusi. Iran adalah satu-satunya negara di mana cabang eksekutif (Presiden) tidak mengendalikan angkatan bersenjata karena militer tunduk langsung pada Pemimpin Tertinggi.
3. Majelis Pakar: Sang Pemilih Pemimpin
Badan ini terdiri dari 86 ulama yang dipilih publik setiap delapan tahun. Tugas utama mereka adalah memilih, mengawasi, dan jika perlu, memberhentikan Pemimpin Tertinggi. Penunjukan Mojtaba pada Minggu lalu merupakan keputusan paling bersejarah yang diambil lembaga ini dalam tiga dekade terakhir.
4. Dewan Penjaga Konstitusi: ‘Hak Veto’ Atas Parlemen
Terdiri dari 12 ahli hukum (6 di antaranya ditunjuk langsung oleh Pemimpin Tertinggi). Lembaga ini sangat berkuasa karena bisa membatalkan undang-undang yang disahkan Parlemen jika dianggap tidak sesuai hukum Islam (syariah). Mereka juga berhak menyaring calon presiden; pada 1997 saja, mereka mengeliminasi ratusan kandidat hingga tersisa hanya empat orang.
5. Militer dan Garda Revolusi (IRGC)
Iran memiliki dua kekuatan bersenjata: Tentara Reguler dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
IRGC: Pasukan elit yang dibentuk khusus untuk melindungi revolusi.
Kementerian Intelijen (MOIS): Lembaga misterius yang mengumpulkan informasi domestik dan global. Kedua lembaga ini bertanggung jawab langsung kepada Mojtaba Khamenei, bukan kepada Presiden.
6. Lembaga Peradilan dan Dewan Kebijakan
Seluruh cabang peradilan dikendalikan oleh Pemimpin Tertinggi melalui penunjukan kepala lembaga peradilan. Selain itu, terdapat Dewan Kebijakan yang berfungsi sebagai penasihat tertinggi bagi Mojtaba dalam menengahi perselisihan antar-lembaga negara.
Babak Baru Iran di Tangan Mojtaba Terpilihnya Mojtaba Khamenei diprediksi akan membawa garis kebijakan Iran yang lebih keras terhadap Barat, terutama Amerika Serikat dan Israel.
Dengan struktur kekuasaan yang begitu sentralistik, arah masa depan Iran kini sepenuhnya berada di pundak putra Ali Khamenei tersebut.
(*)












