Langit Asia Tenggara mulai sunyi. Bukan karena pandemi, tapi karena mesin-mesin pesawat kehabisan napas akibat bara perang di Timur Tengah yang kian memanas
TITIKNOL.ID, JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai mengirimkan gelombang kejut ke industri penerbangan Asia Tenggara.
Dua negara tetangga Indonesia, Vietnam dan Filipina, kini menghadapi krisis bahan bakar pesawat (Avtur) yang memaksa penghentian sejumlah rute penerbangan.
Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., menyatakan bahwa penghentian operasional pesawat menjadi “kemungkinan yang nyata” akibat keterbatasan pasokan bahan bakar.
Melansir laporan Bloomberg pada Selasa (24/3/2026), sejumlah negara telah menginformasikan maskapai Filipina bahwa mereka tidak lagi mampu menyediakan bahan bakar untuk pesawat yang singgah.
Kondisi ini memaksa maskapai untuk membawa bahan bakar cadangan sejak keberangkatan awal, termasuk untuk perjalanan pulang.
Praktik ini tidak hanya memberatkan beban operasional tetapi juga meningkatkan risiko gangguan jadwal penerbangan secara masif di wilayah tersebut.
Langkah serupa diambil oleh otoritas penerbangan Vietnam. Mulai April mendatang, Vietnam Airlines berencana menangguhkan sedikitnya 23 penerbangan domestik per minggu.
“Terbatasnya pasokan Jet A-1 akibat konflik di Timur Tengah menempatkan maskapai domestik pada risiko kekurangan bahan bakar yang serius,” tulis pernyataan resmi otoritas penerbangan sipil Vietnam yang dikutip dari AFP.
Selain pengurangan rute, maskapai Vietnam juga tengah mengkaji penerapan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) untuk rute internasional.
Sebagai langkah darurat, Hanoi mulai melobi dukungan pasokan energi dari Qatar, Kuwait, hingga Rusia untuk mengamankan stok nasional.
Lumpuhnya Hub Global dan Demo Massa
Dampak perang ini tidak hanya dirasakan di udara.
Di Filipina, ribuan sopir angkutan umum jeepney turun ke jalan pada Kamis 19 Maret 2026 untuk memprotes harga solar yang melonjak dua kali lipat.
Kenaikan ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Teheran, jalur vital yang menyumbang seperlima pasokan minyak dunia.
Di level global, pusat penerbangan utama seperti Bandara Internasional Dubai, Hamad (Qatar), dan Abu Dhabi turut mengalami gangguan operasional.
Penutupan hub-hub strategis ini menyebabkan puluhan ribu penumpang terlantar dan mengacaukan rantai logistik udara internasional.
Krisis ini menjadi alarm keras bahwa konflik di Timur Tengah telah melampaui isu geopolitik, dan kini secara nyata mengancam stabilitas ekonomi serta mobilitas masyarakat di kawasan Asia Tenggara.
(*)












