Berdiri di daratan tinggi Mamboro, mata akan langsung dimanjakan oleh bentangan luas Teluk Palu, Sulawesi Tengah yang memantulkan cahaya terik saat cuaca cerah, Sabtu 14 Maret 2026 siang.
Saking teriknya mahahari yang membasuh kepala, sampai mengernyitkan dahi, mata yang bundar belo’k, tiba-tiba, mendadak disipit-sipitkan.
Dan tatkala mengalihkan pandangan ke arah perbukitan di kejauhan, tersaji pemandangan yang kontras, deretan bukit yang tampak “bopeng” dan terkelupas.
Mamboro, yang secara administratif masuk dalam pelukan Kecamatan Palu Utara, merupakan gerbang utama Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Letaknya yang berada di jalur poros Jalan Trans Sulawesi menjadikan wilayah pesisir ini sebagai pintu masuk vital bagi siapapun yang menginjakkan kaki di Benua Tadulako, julukan Sulawesi Tengah.
Namun, pemandangan perbukitan yang “kroak” di wilayah ini bukan tanpa alasan.
Fenomena alam yang tampak “coel” tersebut rupanya merupakan ulah manusia yang disengaja.
Desas-desusnya, kabar yang beredar di tengah masyarakat menyebutkan bahwa aktivitas pengerukan bukit tersebut diduga kuat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan material pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
Letak geografis Palu yang berseberangan langsung dengan Kalimantan Timur menjadikannya lokasi strategis untuk menyuplai material konstruksi dalam skala besar.
Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah memang menjadi pemasok utama bahan baku konstruksi untuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Saat Joko Widodo masih jadi Presiden Republik Indonesia, sebutkan bahwa sebagian besar material batu dan pasir untuk IKN Nusantara berasal dari wilayah Palu dan Donggala.
Berikut adalah beberapa poin penting mengenai peran strategis Palu Sulawesi Tengah dalam proyek ini:
1. Kualitas Material yang Diakui
Batu pecah (koral) dan pasir dari daerah Palu serta Donggala dikenal memiliki kualitas tinggi (keras dan tahan lama) yang memenuhi standar spesifikasi teknis pembangunan infrastruktur skala besar di IKN Nusantara.
Kualitas ini bahkan dianggap lebih unggul dibandingkan beberapa material lokal di Kalimantan Timur.
2. Kedekatan Geografis (Jalur Laut)
Secara geografis, Teluk Palu hanya dipisahkan oleh Selat Makassar dari lokasi IKN Nusantara di Penajam Paser Utara.
Hal ini membuat biaya logistik lebih efisien menggunakan kapal tongkang atau kapal Ro-Ro dibandingkan mendatangkan material dari pulau lain yang lebih jauh.
3. Revitalisasi Pelabuhan
Untuk mendukung kelancaran distribusi ini, pemerintah telah meresmikan rehabilitasi Pelabuhan Wani dan Pelabuhan Pantoloan di Teluk Palu.
Pelabuhan ini difungsikan sebagai titik utama pengiriman logistik konstruksi ke Kalimantan.
Dampak di Lapangan
Meskipun memberikan keuntungan ekonomi yang besar bagi Sulawesi Tengah (nilainya mencapai triliunan rupiah), aktivitas tambang galian C yang masif ini juga membawa beberapa tantangan:
- Polusi Debu:
Masyarakat di sepanjang jalan poros Palu-Donggala sering mengeluhkan polusi debu akibat aktivitas truk pengangkut material.
- Izin Tambang:
Terjadi lonjakan permohonan izin tambang baru di wilayah tersebut seiring dengan tingginya permintaan dari IKN Nusantara.
- Fluktuasi Harga:
Sempat terjadi lonjakan harga material di Palu karena tingginya permintaan, yang kemudian memicu pemerintah untuk melakukan pengendalian harga agar tidak menghambat proyek nasional.
Meski memberikan dampak ekonomi, pemandangan bukit yang kian terkikis ini kini menjadi wajah baru, sebuah persimpangan antara keindahan pesisir dan tuntutan pembangunan masa depan.
Budi Susilo
Traveler, pengelana modal minim












