Oleh: Budi Susilo, pegiat The Gala Puncak Balikpapan
Pagi itu, 8 Januari 2026, cuaca di Jalan Soekarno-Hatta KM 7, Kelurahan Graha Indah, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur terasa redup lantaran mendung.
Di sudut Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS), sebuah ironi visual tersaji, rimbun hijau yang seharusnya menjadi penyejuk mata, justru tampak sekarat di bawah kuasa limbah.
Beberapa helai daun tanaman hias terlihat menyembul pasrah, seolah sedang melakukan upaya terakhir untuk sekadar menghirup karbondioksida serta melepas oksigen.
Tubuh mereka hampir seluruhnya tenggelam oleh ‘invasi’ plastik, kertas, sisa makanan, yang tumpah ruah melampaui batas bak penampungan.

Eksistensi flora yang semula ditanam untuk mempercantik wajah kota, kini justru terancam oleh perilaku abai yang membiarkan sampah tercecer tanpa arah.
Sebenarnya, kehadiran tanaman di sana adalah sebuah pesan bisu.
Ia adalah kode agar area tersebut tetap dipandang sebagai ruang terbuka hijau yang asri, bukan sekadar muara pembuangan.
Namun sayang, bahasa alam seringkali gagal diterjemahkan oleh manusia, sampah tetap saja beredar bebas, merusak harmoni yang coba dibangun.

Menjemput Kehidupan Baru
Melihat pemandangan yang memilukan tersebut, langkah taktis segera diambil. Tidak ada waktu untuk sekadar mengeluh.
Tanaman-tanaman yang nyaris terkubur hidup-hidup itu segera dievakuasi.
Akar-akar mereka dicabut dengan hati-hati, membebaskan mereka dari jeratan limbah non-organik yang menyesakkan.
Kini, tanaman-tanaman itu telah memiliki “rumah baru” yang lebih layak. Mereka dipindahkan ke area terbuka hijau yang lebih bersahabat, salah satunya di The Gala Puncak, Perum Pesona Bukit Batuah RT25, Kelurahan Graha Indah.
Di sana, mereka tak lagi perlu bertarung melawan bau dan tumpukan plastik.
Di tempat yang baru, mereka bisa kembali bernapas lega, bertumbuh, dan menjalankan kodratnya: menjaga Balikpapan agar tetap hijau, indah, dan manusiawi.
Sebab, hijau yang asri tidak akan pernah tumbuh dari hati yang membiarkan sampah berserakan di luar tempatnya.
(*)












