Berita

Ketegangan di Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Brent Meroket hingga 5,6 Persen

35
×

Ketegangan di Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Brent Meroket hingga 5,6 Persen

Sebarkan artikel ini
Dampak perang Iran dengan Israel-Amerika Serikat. Kilang minyak terbakar.

Dunia dalam ancaman krisis energi. Perang di Timur Tengah meluas hingga fasilitas gas Qatar dan Saudi dihantam rudal. Harga minyak Brent langsung terbang ke 107 dollar AS. Simak kronologi lengkap dan dampaknya bagi pasokan global

TITIKNOL.ID, JAKARTA – Pasar energi global kembali bergejolak. Harga minyak dunia melonjak tajam pada penutupan perdagangan Rabu (18/3/2026) waktu setempat atau Kamis (19/3/2026) pagi WIB.

Kenaikan signifikan ini dipicu oleh eskalasi konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran di kawasan vital produsen energi.

Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent melonjak 3,8 persen menjadi 107,38 dollar AS per barel, bahkan terus menguat hingga 5,6 persen dalam perdagangan lanjutan setelah penutupan.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik tipis 0,1 persen ke level 96,32 dollar AS per barel, sebelum akhirnya menyusul naik sekitar 4 persen.

Lonjakan harga ini dipicu oleh serangan balasan Teheran terhadap sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah.

Langkah ini diambil Iran menyusul serangan terhadap ladang gas South Pars milik mereka, yang diduga dilakukan oleh Israel dengan restu AS.

Dampak serangan tersebut mulai terasa di berbagai titik strategis:

  • Qatar: Kawasan industri Ras Laffan dilaporkan mengalami kerusakan besar akibat hantaman rudal.
  • Arab Saudi: Pemerintah setempat berhasil mencegat sejumlah rudal balistik dan drone yang menargetkan fasilitas gas di wilayah timur.
  • Ancaman Evakuasi: Media pemerintah Iran merilis peringatan evakuasi bagi fasilitas energi di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar, yang disebut akan menjadi target serangan selanjutnya.

Serangan terhadap ladang South Pars mendorong kenaikan harga minyak dan gas.

Baca Juga:   UPDATE Gencatan Senjata Gaza Terancam Batal, Israel Menggila Buat Houthi Ngamuk

“Setiap eskalasi lebih lanjut terhadap infrastruktur energi akan terus melambungkan harga,” ujar Analis SEB, Ole Hvalbye.

Lumpuhnya Jalur Selat Hormuz

Konflik ini juga berdampak fatal pada jalur distribusi. Penutupan Selat Hormuz telah menghentikan pengiriman energi global.

Jalur vital ini biasanya menangani sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Akibat gangguan ini, pemangkasan produksi minyak di Timur Tengah diperkirakan mencapai 7 juta hingga 10 juta barel per hari, atau setara dengan 7 hingga 10 persen dari total permintaan global.

Di tengah kekhawatiran pasokan, angin segar datang dari Irak. North Oil Company menyatakan ekspor minyak dari ladang Kirkuk ke pelabuhan Ceyhan, Turki, kembali berjalan via pipa dengan kapasitas awal 250.000 barel per hari.

Irak meningkatkan produksi pada waktu yang tepat saat dunia sangat membutuhkan pasokan.

“Ini juga memberikan tekanan politik bagi Iran,” kata Phil Flynn, analis dari Price Futures Group.

Selain Irak, Libya juga mulai mengalihkan aliran produksi dari ladang minyak Sharara melalui jalur alternatif pasca-insiden kebakaran.

Meskipun pasokan dari AS menunjukkan kenaikan inventaris sebesar 6,2 juta barel menjadi 449,3 juta barel, jauh di atas ekspektasi pasar, tekanan geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor dominan yang membayangi stabilitas harga energi global ke depan.

(*)