TITIKNOL.ID – Presiden Prabowo Subianto menanggapi kritik yang menyebut dirinya terlalu sering melakukan kunjungan ke luar negeri sejak menjabat sebagai kepala negara.
Menurutnya, banyak negara sahabat justru mengundang Indonesia untuk memperkuat hubungan bilateral.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII HIPMI di Bandar Lampung, Rabu (10/6).
Ia mengungkapkan bahwa hampir seluruh duta besar yang baru menyerahkan surat kepercayaan kepadanya turut membawa undangan resmi dari pemimpin negara masing-masing.
”Saya menerima 17 duta besar. Hampir semuanya menyampaikan undangan dari presiden dan perdana menteri masing-masing. Mereka berharap Presiden Indonesia bisa berkunjung ke negara mereka,” ujar Prabowo.
Dengan nada santai, Prabowo mengaku kewalahan jika harus memenuhi seluruh undangan tersebut. “Bayangkan 17 negara itu, terbangnya sudah klenger aku,” katanya yang disambut tawa hadirin.
Dalam beberapa hari terakhir, Presiden menerima surat kepercayaan dari 17 duta besar negara sahabat, di antaranya dari Guatemala, Qatar, Kenya, Fiji, Maroko, Portugal, Panama, Korea Utara, Mozambik, Sri Lanka, Filipina, Korea Selatan, Republik Ceko, Palestina, Yunani, Lebanon, dan Saint Lucia.
Prabowo menilai tingginya minat negara-negara sahabat untuk menjalin hubungan lebih erat dengan Indonesia menunjukkan posisi strategis Indonesia di kancah internasional.
Prabowo menegaskan bahwa Indonesia dikenal sebagai negara yang bersahabat dengan semua pihak.
”Indonesia dicari karena Indonesia tidak punya musuh,” tegasnya.
Menurut Prabowo, kebijakan luar negeri yang dijalankannya merupakan kelanjutan dari prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi pegangan Indonesia dalam menjalin hubungan internasional.
Ia juga kembali mengutip prinsip diplomasi yang selama ini menjadi pedomannya. “Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Ini adalah garis yang saya tempuh,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah kritik sejumlah pihak terhadap intensitas perjalanan luar negeri Prabowo.
Salah satu kritik datang dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, yang meminta agar frekuensi kunjungan ke luar negeri dapat dikurangi secara signifikan.
Dino menilai perjalanan luar negeri Presiden menjadi sorotan publik karena dianggap cukup sering dilakukan di tengah tantangan ekonomi yang masih dihadapi Indonesia.
Ia menyebut, berdasarkan perhitungannya, Prabowo termasuk salah satu kepala negara yang paling sering melakukan kunjungan ke luar negeri sejak dilantik sebagai presiden. (*/)












