TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia Kalimantan Timur (GPEI Kaltim) menyatakan kontra dengan rencana penutupan alur di bawah Jembatan Mahakam Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.
Kebijakan penutupan alur ini tidak terlepas karena ada tragedi kapal tongkang muatan kayu tabrak jembatan.
Tetapi kemudian tidak harus memblokade, menutup akses alur pelayaran di bawah jembatan tersebut.
Hal ini ditegaskan oleh Sekretaris DPD GPEI Kaltim, Hasrun Jaya yang dikutip oleh Titiknol.id pada Jumat (14/3/2025).
Pihak GPEI Kaltim merasa tidak setuju dengan kebijakan penutupan alur sungai di bawah Jembatan Mahakam. Alasannya memberikan efek buruk bagi semua sendi kehidupan ekonomi masyarakat.
Karena itu, pihaknya tawarkan solusi. Hasrun Jaya berharap agar pemerintah dan pemangku kebijakan dapat mencari solusi terbaik tanpa menutup jalur pelayaran,
1.Meninggikan Jembatan Mahakam
Ia mengusulkan, perbaikan infrastruktur Jembatan Mahakam, seperti meninggikan jembatan agar kapal tetap bisa melintas tanpa mengganggu transportasi darat.
2. Evaluasi Jembatan Mahakam
Dan kedua tidak ketinggalan perlu ada evaluasi mengingat Jembatan Mahakam 1 di Kota Samarinda sudah dihantam kapal tongkang sebanyak 22 kali sejak didirikan.
3. Bangun Jembatan Baru
Kata dia, di masa yang akan datang, perlu dibangun jembatan baru yang lebih memenuhi standar keamanan dan efisiensi.
Hal ini dikarenakan jembatan yang ada saat ini memiliki jarak antar tiang yang terlalu dekat, sehingga berpotensi menghambat kelancaran lalu-lintas.
Tentu saja, jembatan tersebut telah mengalami kecelakaan atau ditabrak sebanyak kurang lebih 22 kali mesti ada kajian yang terbaik agar tidak lagi terulang, bisa menghindari petaka.
“Perlu adanya evaluasi dan perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang,” ungkapnya. (*)












