Samarinda

Legislatif Minta Audit Teknis Menyeluruh Pasca Proyek Terowongan Rp133 Miliar Digerus Longsor

278
×

Legislatif Minta Audit Teknis Menyeluruh Pasca Proyek Terowongan Rp133 Miliar Digerus Longsor

Sebarkan artikel ini
Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar. IST

TITIKNOL.IDProyek ambisius Terowongan Samarinda yang menelan anggaran ratusan miliar rupiah kini menjadi sorotan tajam legislatif Kota Tepian. Pasalnya, potensi longsor serius di area inlet terowongan, tepatnya di Jalan Sultan Alimuddin, Kelurahan Sungai Dama, Kecamatan Samarinda Ilir, mengancam kelanjutan dan keamanan proyek strategis ini.

Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, mengungkapkan kekhawatirannya menyusul insiden longsor yang terjadi pada Februari dan Mei 2025. Menurut Deni, kejadian tersebut jelas mengindikasikan lemahnya daya dukung geologis di kawasan tersebut. Ia menekankan bahwa proyek sebesar ini tidak boleh hanya berlandaskan asumsi di atas kertas tanpa mempertimbangkan kondisi riil di lapangan.

“Jangan sampai data di atas kertas berbeda dengan kondisi di lapangan. Proyek sebesar ini butuh pengawasan yang sangat serius dan mendalam,” tegas Deni pada Senin (21/7/2025).

Dalam rapat dengar pendapat antara DPRD, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda, dan pihak kontraktor, terungkap bahwa bekas lereng longsor masih menunjukkan gejala pergerakan tanah. Deni menyebut temuan ini sebagai “alarm” yang menuntut peninjauan ulang pendekatan teknis dan metode penanganan yang sedang digunakan.

Sebagai bentuk pengawasan ketat, Komisi III DPRD Samarinda dijadwalkan akan melakukan inspeksi langsung ke lokasi proyek pada Senin pekan depan. “Kami tak akan berkompromi. Jangan sampai keselamatan warga dikorbankan demi mengejar target penyelesaian proyek,” ujarnya.

Menanggapi kekhawatiran legislatif, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda telah menyiapkan dua tahap penanganan ekstra untuk memperkuat area inlet terowongan. Total anggaran yang disiapkan untuk upaya mitigasi ini diperkirakan mencapai Rp133 miliar.

Rinciannya, tahap pertama dengan alokasi Rp39 miliar akan mencakup pembangunan dinding penahan sepanjang 72 meter dan penataan ulang lereng. Tahap ini ditargetkan rampung pada Desember 2025. Selanjutnya, tahap kedua yang akan dilaksanakan pada tahun 2026, menganggarkan Rp94 miliar untuk pemasangan ground anchor dan perbaikan sistem drainase yang komprehensif.

Baca Juga:   Laila Fatihah Kunjungan ke Bogor Terkait Bapemperda

Selain fokus pada mitigasi longsor, Deni Hakim Anwar juga mengingatkan pentingnya peningkatan akses jalan di sekitar terowongan, terutama di Jalan Sultan Alimuddin. Hal ini krusial untuk mencegah munculnya titik kemacetan baru setelah terowongan beroperasi.

“Proyek ini bukan sekadar solusi lalu lintas, tapi harus mampu menjamin kenyamanan dan keselamatan jangka panjang bagi masyarakat. Jangan sampai proyek mahal ini justru menjadi monumen yang menyimpan masalah di kemudian hari,” pungkas Deni, memberikan penekanan pada visi pembangunan yang berkelanjutan dan aman. (*/red/adv)