TITIKNOL.ID, MALAYSIA – Di usianya yang menginjak satu abad tahun ini, Tun Dr. Mahathir Mohamad masih setia pada rutinitas lamanya: makan secukupnya, terus bekerja, dan enggan berlama-lama beristirahat.
“Hal utama adalah saya selalu bekerja. Saya tidak memberi waktu bagi diri saya untuk beristirahat,” ujar Mahathir kepada Al Jazeera.
“Saya terus menggunakan pikiran dan tubuh saya. Jagalah agar tetap aktif, maka hidup pun akan lebih panjang,” lanjutnya.
Dari meja kerjanya di Putrajaya, tak jauh dari ibu kota Kuala Lumpur, Mahathir melewati hari ulang tahunnya yang ke-100 dengan menulis refleksi tentang perekonomian Malaysia, situasi politik dalam negeri, hingga konflik dunia, terutama yang terjadi di Gaza.
Dalam wawancara bersama Al Jazeera, setelah sempat pulih dari kelelahan menjelang ulang tahunnya, Mahathir menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi kemanusiaan di Gaza.
Ia menyebut tindakan Israel terhadap rakyat Palestina sebagai kebrutalan yang akan tercatat dalam sejarah dunia.
“Gaza itu mengerikan. Mereka membunuh ibu hamil, bayi yang baru lahir, anak-anak muda, laki-laki dan perempuan, orang sakit dan orang miskin. Bagaimana mungkin ini bisa dilupakan?,” katanya dengan suara berat.
“Ini mungkin akan dikenang selama berabad-abad,” tambah Mahathir.
Mahathir menyamakan apa yang terjadi di Gaza dengan genosida, seperti yang dialami umat Muslim di Bosnia pada awal 1990-an, dan juga tragedi Holocaust yang menimpa kaum Yahudi di bawah rezim Nazi Jerman pada Perang Dunia II.
Tentu yang membuatnya kecewa, kata Mahathir, adalah bahwa bangsa yang pernah menjadi korban genosida kini melakukan hal serupa terhadap bangsa lain.
“Saya pikir orang-orang yang pernah mengalami penderitaan seperti itu tak akan tega menjatuhkan nasib yang sama pada orang lain. Tapi saya salah,” ujarnya lirih.
Kritik Lama, Pendirian Tak Berubah
Di masa kejayaannya pada era 1980–1990-an, Mahathir dikenal di panggung global sebagai suara lantang dunia Selatan dan kritikus tajam terhadap imperialisme Barat serta dominasi ekonomi global atas negara-negara berkembang.
Ia juga dikenal sebagai pendukung setia perjuangan rakyat Palestina, meski tak jarang menuai kecaman atas pernyataannya yang dianggap anti-Semit.
Namun dalam wawancaranya kali ini, Mahathir menegaskan bahwa ia pernah benar-benar bersimpati kepada rakyat Yahudi ketika kekejaman Nazi terungkap pasca-Perang Dunia II.
Sayangnya, menurut dia, bangsa Israel tidak belajar apa pun dari pengalaman pahit mereka.
“Mereka justru ingin memperlakukan orang Arab seperti dulu mereka diperlakukan,” kata Mahathir.
Bagi Mahathir, satu-satunya cara yang masuk akal untuk menyelesaikan konflik Israel–Palestina adalah solusi dua negara. Meski beberapa negara besar seperti Australia, Belgia, Kanada, Prancis, dan Inggris baru-baru ini mengakui negara Palestina, Mahathir pesimistis hal itu akan segera tercapai.
“Tidak dalam hidup saya. Waktu saya sudah terlalu singkat,” katanya pelan. (*)












