TITIKNOL.ID, TENGGARONG – Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, tak sekadar dikenal karena alam dan kekayaan buminya.
Di balik itu, tersimpan jejak emas peradaban Nusantara yang masih berdiri kokoh: Prasasti Yupa, bukti sejarah kerajaan Hindu tertua di Indonesia.
Tujuh prasasti beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta ini menjadi peninggalan masa kejayaan Kerajaan Kutai Martadipura di era Raja Mulawarman. Dalam batu-batu Yupa itu, tertulis kisah silsilah, kemuliaan raja, hingga penghormatan terhadap tokoh-tokoh agama.
Prasasti ini ditemukan di Bukit Ubus, Kecamatan Muara Kaman—wilayah yang kini dianggap sebagai titik awal peradaban tertulis di Nusantara.
Melalui program bertajuk “Memory of Yupa”, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara bertekad menjadikan Yupa sebagai bagian dari Memori Kolektif Bangsa yang diakui secara resmi oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
“Yupa adalah bukti otentik sejarah Indonesia yang tak bisa kita abaikan. Ini bukan hanya milik Kutai, tapi milik bangsa,” tegas Plt Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kukar, Rinda Desianti, Minggu (19/10/2025).
Tak berhenti di tingkat nasional, Pemkab Kukar bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV juga mendorong agar Yupa diusulkan sebagai warisan dunia UNESCO.
“Bayangkan, kalau Yupa diakui UNESCO, dunia akan melihat bahwa peradaban besar pernah tumbuh dari tanah Kukar. Ini tentang identitas, kebanggaan, dan jati diri bangsa,” lanjut Rinda.
Lebih dari Sekadar Batu
Lebih dari sekadar benda purbakala, Yupa menyimpan potensi besar dalam pengembangan sektor budaya, pendidikan, dan pariwisata berkelanjutan.
Pelestariannya dinilai strategis untuk memperkuat daya saing Kukar di level nasional bahkan internasional.
“Sejarah yang kuat bisa jadi pondasi pembangunan. Kukar punya modal budaya yang luar biasa, dan ini harus dimanfaatkan untuk masa depan,” tambah Rinda.
Saat ini, Pemkab Kukar juga tengah melakukan inventarisasi situs-situs bersejarah lainnya, sebagai bagian dari misi pelestarian warisan budaya lokal yang selaras dengan visi ‘Kukar Idaman Terbaik’.
“Menjaga Yupa bukan sekadar melihat ke masa lalu. Ini tentang bagaimana kita menata masa depan dengan identitas yang kuat,” tutupnya. (*)












