TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Program Kredit Berusaha, Beruntung dan Berkah (Bertuah) yang digagas Walikota Samarinda, Andi Harun, terbukti bukan sekadar fasilitas pinjaman tanpa bunga.
Program ini kini menjelma menjadi ekosistem pendukung atau end-to-end support system yang sukses membawa pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) lokal naik kelas hingga menembus pasar nasional.
Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi, Industri, dan UKM (Diskumi) Samarinda, Muhammad Rizal, menegaskan bahwa Kredit Bertuah adalah instrumen nyata pemerintah kota dalam memperkuat fondasi ekonomi rakyat.
“Alhamdulillah, kucuran dana kita sekitar Rp 12 miliar sudah memenuhi target. Bahkan, target kita sudah lebih dari 100 persen, mencapai 112 persen,” ujar Rizal.
Sejak diluncurkan pada 2022, program kolaborasi Pemkot Samarinda dengan Bank Kaltimtara dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui skema Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir (KPMR) ini telah memberikan dampak signifikan.
Hingga akhir September 2025, tercatat 290 debitur telah menikmati fasilitas pinjaman dengan plafon hingga Rp 25 juta dan tenor dua tahun.
“Ini memang program andalan dari Bapak Andi Harun untuk membantu permodalan, khususnya bagi UMKM Kota Samarinda,” tuturnya.
NIB Cepat dalam Hitungan Jam
Bagi Diskumi, Kredit Bertuah memiliki makna yang lebih luas dari sekadar permodalan. Pemerintah kota memperluas cakupannya menjadi ekosistem pemberdayaan yang lengkap, mulai dari kemudahan administrasi hingga pendampingan legalitas.
Syarat pengajuan Kredit Bertuah dibuat sederhana, yaitu memiliki KTP dan Kartu Keluarga (KK) Samarinda, serta melengkapi Nomor Induk Berusaha (NIB).
Menariknya, bagi pelaku usaha yang belum memiliki NIB, pemerintah kota memberikan pendampingan penuh melalui sepuluh operator yang tersebar di sepuluh kecamatan.
“Proses penerbitan NIB juga tergolong cepat. Dengan kelengkapan data, izin usaha dapat terbit hanya dalam waktu beberapa jam,” papar Rizal.
Sistem ini memastikan UMKM Samarinda lebih siap bersaing, karena legalitas usaha syarat utama agar produk bisa masuk ke pasar besar dapat dipenuhi dengan mudah.
Produk Lokal Menjelajah Indonesia
Setelah masalah permodalan dan legalitas selesai, Diskumi melanjutkan pendampingan pada tahap paling krusial: pemasaran.
Melalui program ekspansi ProRinda (Pemasaran Produk Orang Samarinda), produk-produk lokal kini mulai mengisi rak berbagai pusat perbelanjaan di kota-kota besar.
Hingga kini, ProRinda telah menjangkau tujuh titik strategis di Indonesia, antara lain:
- Sarinah Jakarta
- Taman Mini Indonesia (Pusat oleh-oleh dan wisata nusantara)
- Kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2
- Bandara Soekarno-Hatta Terminal 3
- Hamzah Batik di kawasan Malioboro, Yogyakarta
- Terbaru: Toko Rudy di Surabaya
“Kita membuka peluang. Kita mendatangi retail-retail terkenal di Indonesia, bernegosiasi sistemnya, dan kita memfasilitasi UMKM kita,” jelas Rizal.
Untuk bisa lolos ke pasar nasional, produk-produk wajib melalui proses kurasi ketat dari sisi kemasan, rasa, hingga kelengkapan legalitas seperti sertifikasi halal dan NIB.
Diskumi memastikan setiap pelaku usaha mendapatkan pendampingan penuh untuk memenuhi standar tersebut, termasuk bantuan fasilitas kemasan.
Mayoritas produk yang diekspansi adalah makanan khas Samarinda, namun produk kriya seperti kerajinan dan manik-manik juga dibuka ruang.
Selain itu, momentum seperti Ramadan dimanfaatkan dengan mempromosikan produk lokal dalam bentuk paket parsel. (*)












