Dua minggu tanpa kapal barang, piring nasi warga Kubar mulai terancam! Akibat sengketa BBM subsidi, jalur logistik Samarinda-Kubar lumpuh total. Harga sembako naik, buruh pun kehilangan kerja. Sampai kapan kondisi ini berlanjut?
TITIKNOL.ID, SENDAWAR – Sudah dua pekan lamanya, nadi transportasi sungai yang menghubungkan Kutai Barat (Kubar) dan Samarinda di Provinsi Kalimantan Timur lumpuh total.
Hingga Kamis (5/2/2026), kapal penumpang dan kapal distribusi barang belum juga beroperasi kembali.
Terhentinya layanan ini merupakan buntut dari distopnya pasokan BBM bersubsidi sejak 22 Januari 2026 lalu.
Kini, para pengusaha kapal hanya bisa menunggu dalam ketidakpastian sembari menanti terbitnya rekomendasi baru dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).
Belum Ada Tanda-tanda Beroperasi
Kepala UPT Pelabuhan Melak Kutai Barat, Yunus Parwito, menegaskan bahwa hingga sore tadi belum ada indikasi kapal-kapal besar tersebut akan kembali melaut.
“Kami belum bisa menentukan sampai kapan angkutan kapal ini berhenti beroperasi. Sampai hari ini pun, pihak pelabuhan belum menerima laporan dari pemilik kapal mengenai rencana keberangkatan kembali,” ujar Yunus dengan nada tegas, Kamis (5/2/2026) sore.
Saat ini, puluhan kapal penumpang dan logistik rute Kubar-Samarinda masih tertahan di dermaga Samarinda.
Sebagai alternatif, transportasi penumpang hanya dilayani oleh unit speedboat, yang tentu memiliki kapasitas terbatas dan biaya berbeda.
Berhentinya operasional kapal besar ini bak domino yang meruntuhkan ekonomi lokal.
Dampak yang paling dirasakan masyarakat adalah melambungnya harga sembako di Kutai Barat akibat tersendatnya jalur distribusi utama via sungai.
Tak hanya urusan perut masyarakat luas, nasib para pekerja pelabuhan pun kini di ujung tanduk.
Tanpa adanya aktivitas bongkar muat barang, otomatis para buruh kehilangan mata pencaharian mereka.
“Masyarakat yang bekerja di pelabuhan terpaksa menganggur sementara. Tidak ada barang yang datang, jadi tidak ada pekerjaan bongkar muat sama sekali,” ungkap Yunus lesu.
Namun, selama persoalan pasokan BBM subsidi belum menemukan titik terang di tingkat pusat (BPH Migas), perairan Mahakam rute Kubar-Samarinda diprediksi masih akan sepi dari aktivitas kapal barang. (*)












