Nasional

Kalimantan tak Steril Gempa, Sesar Adang jadi Ancaman Tersembunyi di Balik Guncangan Sintang

55
×

Kalimantan tak Steril Gempa, Sesar Adang jadi Ancaman Tersembunyi di Balik Guncangan Sintang

Sebarkan artikel ini
TITIK GEMPA - Peta Kalimantan di Indonesia. Guncangan bermagnitudo (M) 5,0 yang melanda Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat pada Jumat (13/3/2026) menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas tektonik di pulau ini masih sangat nyata. (Gemini Ai)

Kalimantan bukan lagi ‘zona bebas gempa’! Gempa Sintang M5,0 bongkar fakta keberadaan Sesar Adang yang memanjang dari Paser Kaltim hingga Kalbar. Simak penjelasan pakar soal ancaman gempa lokal ini!

TITIKNOL.ID, SINTANG – Anggapan bahwa Pulau Kalimantan sepenuhnya bebas dari gempa bumi kembali terpatahkan.

Guncangan bermagnitudo (M) 5,0 yang melanda Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat pada Jumat (13/3/2026) menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas tektonik di pulau ini masih sangat nyata.

Gempa yang terjadi pukul 03.04 WIB tersebut dirasakan hingga wilayah Sanggau, Melawi, hingga beberapa titik di Kalimantan Tengah.

Kejadian ini menambah daftar panjang rentetan gempa di Kalimantan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk gempa M4,8 pada Januari 2026 lalu.

Pakar gempa dari Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN), Daryono, menjelaskan bahwa pemicu utama gempa Sintang diduga kuat berasal dari aktivitas Sesar Adang.

Sesar Adang adalah struktur patahan regional yang memanjang dari pesisir timur (Teluk Adang, Kabupaten Paser, Kaltim) menuju pedalaman pulau hingga ke wilayah Sintang, Sekadau, Sanggau.

“Dan berakhir di perbatasan Sarawak, Malaysia,” jelas Daryono, Senin (16/3/2026).

Meski tergolong sesar tua (Tersier) dan tidak seaktif sesar di Jawa atau Sumatra, Sesar Adang tetap memiliki potensi reaktivasi yang dapat memicu gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake).

Berbeda dengan gempa megathrust yang bersumber dari zona subduksi laut, gempa di Kalimantan cenderung bersifat lokal dan sporadis.

Namun, Daryono mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada.

Magnitudonya memang cenderung lebih kecil, tetapi kedalamannya sangat dangkal.

“Dampaknya bisa signifikan jika terjadi di dekat pemukiman atau fasilitas vital,” tegas pria yang juga menjabat Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) tersebut.

Baca Juga:   Hari Ini Duel Klasik Amerika Latin di Bandung, Persib Waspadai Ancaman Peralta Borneo FC Samarinda 

Hal ini terbukti pada gempa Jumat lalu, di mana warga sempat berhamburan keluar rumah karena guncangan yang terasa cukup kuat di sekitar pusat gempa (episenter).

Mitigasi di Tengah Pembangunan Pesat

Posisi Kalimantan yang berada di interior Paparan Sunda memang membuatnya lebih stabil dibanding Sumatra atau Sulawesi. Namun, stabilitas tersebut bersifat relatif, bukan absolut.

Daryono menekankan pentingnya pendekatan mitigasi berbasis risiko bagi infrastruktur modern, kawasan industri, hingga kota-kota yang sedang berkembang pesat di Kalimantan.

Sesar Adang menjadi pengingat bahwa dinamika bumi masih berlangsung di bawah pulau ini.

“Kesadaran terhadap potensi gempa lokal adalah kunci membangun Kalimantan yang aman dan tangguh bencana,” pungkasnya.

(*)