News google
Titiknol IKN

Persemaian Mentawir jadi Penawar IKN Nusantara di Kaltim demi Sukseskan Rehabilitasi Lahan Kritis

×

Persemaian Mentawir jadi Penawar IKN Nusantara di Kaltim demi Sukseskan Rehabilitasi Lahan Kritis

Sebarkan artikel ini
MENTAWIR IKN NUSANTARA - Lokasi persemaian Mentawir di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur pada Selasa (4/6/2024). Hadirnya pusat persemaian skala besar Mentawir ini, sebagaimana arahan Presiden Jokowi ditujukan untuk pemenuhan penyediaan bibit-bibit berkualitas, guna mencukupi program Rehabilitasi Hutan dan Lahan dengan dampak nyata secara ekologis, ekonomis, dan sosial. (Titiknol.id)

Persemaian Mentawir dimulai kontruksinya pada pertengahan tahun 2022 dan selesai pada Desember 2023 dengan kapasitas produksi bibit pohon sebanyak 15 juta per tahun.

TITIKNOL.ID, NUSANTARA – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya menyampaikan peresmian Pusat Persemaian Skala Besar Mentawir merupakan bagian dari acara Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni.

Rangkaian kegiatan HLH 2024 berlangsung sejak tanggal 5 Mei hingga 5 Juli 2024. Peringatan tahun ini mengambil tema: Land Restoration, Desertification and Drought Resilience.

“Tema ini secara substansial sangat relevan dengan kehadiran pusat persemaian, sebagai titik awal kegiatan rehabilitasi dengan penanaman yaitu bibit,” ujarnya.

Hadirnya pusat persemaian skala besar Mentawir ini, sebagaimana arahan Presiden Jokowi ditujukan untuk pemenuhan penyediaan bibit-bibit berkualitas, guna mencukupi program Rehabilitasi Hutan dan Lahan dengan dampak nyata secara ekologis, ekonomis, dan sosial.

“Persemaian Mentawir ini menjadi salah satu pendukung kunci bagi upaya mewujudkan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai smart forest city,” ujar Menteri Siti.

Pusat Persemaian Mentawir mencakup total area 120 hektar, dengan 30 hektar digunakan sebagai pusat produksi bibit dan 90 hektar antara lain disiapkan untuk Pusat Plasma Nutfah Nasional yang sedang dalam pekerjaan konstruksi.

Persemaian Mentawir dimulai kontruksinya pada pertengahan 2022 dan selesai pada Desember 2023 dengan kapasitas produksi bibit pohon sebanyak 15 juta per tahun.

Sampai saat ini telah diproduksi sekitar 8 juta bibit dan telah didistribusikan sekitar 4,9 juta bibit.

Jenis bibit yang diproduksi antara jenis tanaman kayu-kayuan endemik, tanaman HHBK, tanaman estetika, dan tanaman pakan satwa.

Bibit dari Persemaian Mentawir telah dimanfaatkan untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di wilayah IKN Nusantara, penanganan lahan kritis, rawan bencana, dan pemulihan ekosistem di wilayah Kalimantan Timur, serta berbagai kegiatan penghijauan lingkungan oleh masyarakat di sekitar IKN Nusantara. 

Baca Juga:   PPU Masuk 3 Besar Predikat Kepatuhan Penyelenggaraan Pelayanan Publik

Sebagaimana komitmen global yang selalu disampaikan Bapak Presiden Jokowi pada berbagai forum Internasional, Indonesia melalui Bapak Presiden telah memberikan contoh aksi nyata, leading by example, dengan kebijakan dan implementasi untuk menurunkan emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya melalui Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

“Dan Persemaian Skala Besar ini adalah salah satu contoh wujud konkretnya,” ujar Menteri Siti.

Selain Menteri LHK, turut hadir mendampingi Presiden Jokowi pada acara tersebut Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Panglima TNI.

Acara ini juga dihadiri oleh Duta Besar negara sahabat dan pimpinan lembaga multilateral, Pj. Gubernur Kaltim, Pj. Bupati Penajam Paser Utara, Forkopimda serta para pejabat pusat dan daerah, asosiasi dan bisnis leaders, para aktivis muda, dan green leaders.

Setelah acara peresmian, Presiden Jokowi bersama Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar meninjau langsung area persemaian.

Mereka didampingi oleh para Duta Besar negara sahabat yang turut hadir untuk melihat secara langsung upaya Indonesia dalam menjaga lingkungan.

Persemaian Mentawir diharapkan mampu memproduksi jutaan bibit pohon setiap tahunnya, yang akan didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia untuk mendukung program penghijauan dan rehabilitasi hutan. (*)