News google
Samarinda

Pandangan DPRD soal Siswa di Samarinda Kaltim Membeli LKS untuk Belajar Mengajar

×

Pandangan DPRD soal Siswa di Samarinda Kaltim Membeli LKS untuk Belajar Mengajar

Sebarkan artikel ini
LKS DI SAMARINDA - Wujud bentuk Lembar Kerja Siswa untuk sekolah dasar. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Samarinda, memberikan tanggapan soal kebijakan sekolah yang terapkan Lembar Kerja Siswa kepada pelajar di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. (shoppe)

LKS adalah lembaran yang berisi soal-soal pelajaran, semacam pengulangan namun berisi ujian-ujian soal yang harus dijawab oleh para siswa

TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Samarinda, memberikan tanggapan soal kebijakan sekolah yang terapkan Lembar Kerja Siswa kepada pelajar di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. 

Dijelaskan melalui anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Damayanti, menyatakan, LKS atau Lembar Kerja Siswa memang sudah bukan hal yang asing, Selasa (11/6/2024). 

Melalui Lembar Kerja Siswa, pihak sekolah dalam hal ini seperti guru jadi terbantu, pelajar punya panduan untuk kegiatan belajar baik itu di sekolah maupun saat nanti sedang berada di luar sekolah. 

LKS adalah lembaran yang berisi soal-soal pelajaran, semacam pengulangan namun berisi ujian-ujian soal yang harus dijawab oleh para siswa. Persoalan mata pelajaran dipaparkan dalam LKS ini, siswa tertantang harus bisa memecahkan jawabannya. 

Untuk Lembar Kerja Siswa ini bisa dibilang tidak gratis, tidak disediakan oleh pihak sekolah secara cuma-cuma. Pihak orangtua kadang harus keluarkan kocek untuk membelikan LKS ini untuk anak-anaknya. 

Karena itu, tegas Damayanti, penjualan LKS di sekolah sah-sah saja asalkan harus wajib memenuhi persyaratan.

Yakni harus dimusyawarahkan ke para orangtua siswa dan pelajar agar ada kesepakatan dalam penggunan Lembar Kerja Siswa sebagai media pembelajaran.  

Komunikasi antar sekolah dengan para orangtua siswa tidak boleh terputus, harus ada jembatan yang bisa memberikan saling pemahaman, tidak boleh kebijakan yang dibuat kemudian menimbulkan kontroversi atau polemik.  

“Ya asalkan jangan ada paksaan saja, kalau tujuan untuk kelancaran belajar mengajar anak tidak masalah,” tutur perempuan berjilbab ini. (*)