SamarindaTitiknolKaltim

Tidak Tambah Tenaga, DLH Pakai Sistem Lembur 7 Hari Atasi Volume Sampah Saat Idul Fitri

436
×

Tidak Tambah Tenaga, DLH Pakai Sistem Lembur 7 Hari Atasi Volume Sampah Saat Idul Fitri

Sebarkan artikel ini
PENANGANAN SAMPAH - Ilustrasi tumpukan sampah plastik di sebuah perkotaan Penajam Paser Utara. (Meta Ai)

TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Penanganan sampah di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur selama lebaran Idul Fitri tidak melalui penambahan tenaga kebersihan tetapi sistem lembur tujuh hari. 

Mendekati lebaran hingga sesudah lebaran Idul Fitri, diprediksi volume sampah akan bertambah, menumpuk banyak di beberapa tempat pembuangan akhir sampah. 

Kepala DLH Samarinda, Endang Liansyah, memberikan solusi melalui sistem lembur tujuh hari, Jumat (28/3/2025). 

Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda nantinya akan lembur selama 7 hari untuk mengatasi lonjakan volume sampah selama perayaan Idul Fitri tahun 2025. 

Endang Liansyah, membeberkan, DLH telah melakukan rapat koordinasi dengan para koordinator lapangan dan pengawas, serta sopir truk sampah.

“Guna memastikan kelancaran operasional pengangkutan sampah selama masa Lebaran Idul Fitri,” bebernya.  

Menurut Endang, DLH Samarinda akan menerapkan sistem lembur selama tujuh hari, yakni tiga hari sebelum Idul Fitri dan empat hari sesudahnya. 

Petugas tetap bekerja dalam sistem shift, tetapi hitungannya mereka lembur. 

“Tidak ada penambahan petugas, hanya volume pekerjaan yang ditambah,” bebernya. 

Saat ini, jumlah petugas kebersihan di Samarinda mencapai sekitar 1.300 orang dengan sistem kerja 24 jam.

Pengerjaan dilakukan dengan metode kejar sampah, di mana sampah yang sudah menumpuk segera diangkut tanpa menunggu waktu tertentu. 

“Begitu ada sampah, langsung diambil,” tambah Endang.  

Namun, DLH Samarinda masih menghadapi kendala dalam ketersediaan tenaga kerja dan armada pengangkut sampah.

Endang mengungkapkan bahwa setiap tahunnya ada petugas yang berhenti, dan pada tahun lalu tercatat sekitar 118 orang mengundurkan diri. Sementara per Maret 2025 ini sudah ada 25 orang yang berhenti.  

“Menemukan pengganti petugas sampah itu tidak mudah. Bahkan, kami meminta mereka yang ingin berhenti untuk mencari pengganti terlebih dahulu,” ujarnya. 

Baca Juga:   Hasil Liga 1: David da Silva dan Ciro Alves Cetak Gol, Persib Bandung Tumbangkan Borneo FC

Endang mengakui bahwa kekurangan tenaga ini juga berdampak pada waktu kerja. Jika dalam kondisi normal satu dump truck diisi oleh lima petugas dan membutuhkan waktu dua jam untuk penuh, maka dengan hanya dua petugas, waktu pengisian bisa memakan waktu hingga lima jam.  

Selain permasalahan tenaga kerja, DLH juga mengakui bahwa kondisi armada pengangkut sampah saat ini masih terkendali, meski sebagian besar merupakan armada tua yang sering mengalami kendala teknis.  

“Tapi armada saat ini aman, karena sebelumnya sudah ada perbaikan,” ujar Endang.

Meski demikian, Endang optimis bahwa ke depan pengelolaan sampah di Kota Samarinda akan semakin membaik.

Terlebih saat ini Pemkot Samarinda tengah mematangkan persiapan pengadaan insinerator untuk meminimalisir 600 ton sampah yang dihasilkan Kota Samarinda per hari.

Endang menyebut, Pemkot akan menempatkan insinerator di sepuluh kecamatan, namun akan dimulai dari kawasan Folder Air Hitam.

Insinerator ini diharapkan mampu mengolah sampah, mulai dari 10 kubik ton sampah per hari, atau sekitar 200 kubik ton per bulan. Pastinya kalau ada insinerator ini bisa membantu.

“Tapi kami taruh dulu di kawasan Air Hitam. Yang lain menyusul, hingga ke tempat di 9 kecamatan lainnya. Ini pasti signifikan,” tutur Endang. (*)