Samarinda

150 Kubik Material Runtuh Akibat Longsor Terowongan Samarinda, Pemkot Siapkan Penanganan Jangka Panjang

287
×

150 Kubik Material Runtuh Akibat Longsor Terowongan Samarinda, Pemkot Siapkan Penanganan Jangka Panjang

Sebarkan artikel ini
Kondisi inlet terowongan segmen Sultan Alimuddin yang beredar di media sosial, sebelum ditangani pada Sabtu (17/5/2025) lalu. (Ho/Istimewa)

TITIKNOL.ID, SAMARINDA – Hujan deras yang mengguyur Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), selama hampir tujuh jam sejak pukul 04.00 hingga 11.00 WITA pada Senin (12/5/2025), menyebabkan tanah longsor di area lereng inlet tunnel Jalan Sultan Alimuddin serta genangan banjir di sejumlah titik kota.

‎Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Samarinda, Desy Damayanti, menyampaikan bahwa titik kritis longsor terjadi di sisi kanan lereng inlet terowongan.

Lokasi ini sebelumnya telah dipantau ketat sejak awal tahun melalui sistem monitoring geoteknik.

‎“Hingga tanggal 11 Mei, lereng dinyatakan stabil. Namun, pada 12 Mei pukul 09.17 WITA, terjadi runtuhan besar dengan estimasi luas material longsor mencapai 210 meter persegi dan volume mencapai 150 meter kubik,” ungkap Desy dalam keterangan pers.

‎Tim darurat langsung menutup lokasi dan memasang terpal untuk mencegah longsor susulan.

Selain itu, sistem SWA (Safety Working Area) diterapkan untuk menjaga keselamatan hingga kondisi lereng dinyatakan aman untuk dilakukan pembersihan.

‎Desy menjelaskan bahwa pihaknya bersama tim ahli geologi telah melakukan investigasi sejak Februari 2025.

Ditemukan adanya talus deposit atau material longsoran lama di luar Right of Way (ROW) yang masih labil dan menjadi faktor utama kerentanan tanah di area tersebut.

‎Pemetaan geoteknik dilakukan dua kali, yakni pada 16–18 Februari dan 18 April–3 Mei 2025. Selain mengidentifikasi talus deposit, juga ditemukan sistem tangkapan air hujan alami yang membebani lereng dan memperburuk drainase kawasan.

‎“Pergerakan tanah ini bukan kejutan. Februari lalu juga terjadi runtuhan di sisi kiri inlet yang kami tangani dengan metode shotcrete dan rockbolt. Kejadian kali ini menunjukkan pentingnya pendekatan struktural yang lebih menyeluruh,” jelasnya.

‎Saat ini, Pemkot Samarinda tengah merancang desain penanganan permanen terhadap lereng dengan fokus pada perlindungan jangka panjang.

Baca Juga:   Jelang Hadapi Persebaya di Liga 1, Borneo FC Justru Kehilangan Dua Pilar di Lini Pertahanan

Langkah-langkah yang akan diterapkan mencakup pemasangan shotcrete dua lapis dengan wiremesh, hingga pembersihan material menggantung.

‎Tak hanya penanganan teknis, monitoring lanjutan terhadap pergerakan tanah juga akan dilakukan secara periodik. Pemerintah ingin memastikan keselamatan proyek terowongan dan lingkungan sekitar secara berkelanjutan.

‎“Ini bukan hanya soal memperbaiki lereng yang rusak. Ini soal membangun sistem perlindungan jangka panjang agar kejadian serupa tidak terulang dan warga bisa merasa aman,” pungkas Desy. (Adv/Ink)