Berita

Hasil Autopsi Ulang Pendaki Juliana Marins di Brasil, Mengalami Derita Fisik dan Psikologis 

267
×

Hasil Autopsi Ulang Pendaki Juliana Marins di Brasil, Mengalami Derita Fisik dan Psikologis 

Sebarkan artikel ini
Juliana Marins, warga Brazil yang terjatuh saat mendaki Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (21/6/2025). (Instagram @resgatejulianamarins)

TITIKNOL.ID, BRASIL – Hasil autopsi ulang Juliana Marins di Brasil, terungkap, meninggal dunia 10 menit sampai 15 menit usai cedera dan penyebab kematian.

Seperti diberitakan sebelumnya, otoritas Brasil memutuskan untuk melakukan autopsi ulang setelah jenazah Juliana tiba di Brasil.

Autopsi dilakukan pada 2 Juli oleh dua ahli forensik dari Kepolisian Sipil Rio dan didampingi oleh seorang ahli dari Kepolisian Federal dan seorang asisten teknis dari keluarga. 

Hasil autopsi ulang yang dilakukan terhadap Juliana Marins, warga Brasil yang meninggal saat mendaki Gunung Rinjani, telah dirilis pada Kamis (10/7/2025).

Berdasarkan hasil autopsi yang dirilis Institut Kedokteran Forensik (IML) Rio de Janeiro, Juliana meninggal setelah jatuh dari ketinggian

Penyebab langsung kematiannya adalah pendarahan internal yang disebabkan oleh cedera di berbagai lokasi dan beberapa trauma, sebagaimana dilansir Globo.

IML menyebutkan, Juliana mengalami beberapa cedera dan trauma seperti patah tulang panggul, dada, dan tengkorak, yang sesuai dengan jatuh dari ketinggian.

Hasil autopsi di Brasil juga menunjukkan, Juliana meninggal antara 10 hingga 15 menit setelah menderita cedera.

Setelah terjatuh, Juliana tidak dapat bergerak atau meminta bantuan karena luka-lukanya.

Laporan tersebut menunjukkan kemungkinan Juliana mengalami kesakitan yang parah yang menyebabkan penderitaan fisik dan psikologis sebelum meninggal.

Laporan juga menyebutkan, jenazah Juliana telah diawetkan atau dibalsem.

Pengawetan tersebut membuat beberapa analisis terhambat, seperti memperkirakan waktu kematian dan memverifikasi tanda-tanda klinis yang lebih akurat.

Juliana terjatuh saat pendakian menuju puncak atau summit attack dari tepi jurang Cemara Nunggal ke arah Danau Segara Anak pada 21 Juni.

Jenazahnya berhasil dievakuasi pada 25 Juni setelah tim pencari dan penyelamat berjibaku hingga mempertaruhkan jiwanya.

Baca Juga:   OASE KIM dan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara Bersatu Perangi Stunting

Meninggal karena Luka Dalam

Sebelumnya, otoritas Brasil memutuskan untuk melakukan autopsi ulang setelah jenazah Juliana tiba di Brasil.

Autopsi dilakukan pada 2 Juli oleh dua ahli forensik dari Kepolisian Sipil Rio dan didampingi oleh seorang ahli dari Kepolisian Federal dan seorang asisten teknis dari keluarga. 

Autopsi dimulai pukul 08.30 dan berakhir sekitar pukul 11.00 waktu setempat.

Keluarga berharap, autopsi ulang dapat memperjelas beberapa hal yang masih mereka ragukan seperti waktu kematian sebenarnya dan kemungkinan kelalaian oleh otoritas setempat.

Kala itu, autopsi pertama telah dilakukan oleh tim forensik di Bali, Indonesia setelah jasad Juliana berhasil dievakuasi dari Gunung Rinjani. 

Hasil autopsi menunjukkan, Juliana meninggal akibat luka dalam dan fraktur di berbagai bagian tubuh tanpa adanya tanda-tanda hipotermia. 

Tim forensik menyimpulkan bahwa korban hanya bertahan hidup kurang dari 20 menit setelah mengalami trauma. 

Namun, hasil tersebut ternyata belum memuaskan pihak keluarga Juliana. 

Mereka mengungkapkan kekecewaan karena hasil autopsi diumumkan ke publik sebelum disampaikan secara pribadi kepada mereka. (*)