TITIKNOL.ID, PENAJAM – Produksi padi di Desa Labangka Barat, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), hanya mencapai 3-4 ton sekali panen.
Angka ini masih jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 5,5 ton per hektare.
Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU, Sujiati, mengungkapkan penurunan produksi tersebut kerap dikeluhkan masyarakat.
Mereka menilai adanya limbah tambang dari perusahaan di wilayah hulu turut memengaruhi hasil pertanian.
“Itu memang keluhan masyarakat di sana. Limbah tambang dari atas berpengaruh terhadap produktivitas tanaman pangan,” ucap Sujiati, Rabu (27/8/2025).
Menurutnya, lahan pertanian di Labangka Barat sebetulnya mampu menghasilkan hingga 5 ton per hektare.
Namun, sejak tiga tahun terakhir hasil panen menurun akibat kualitas air yang tercemar.
“Saya lihat langsung di lapangan, airnya banyak lumpur dengan tingkat asam tinggi sehingga padi tidak mau tumbuh,” jelasnya.
Sujiati menambahkan, kadar zat besi berlebih membuat air berwarna kekuningan dan menyebabkan keracunan pada tanaman.
Kondisi itu merusak akar, menghambat pertumbuhan, bahkan membuat daun menguning hingga kecokelatan.
Ia pun meminta pemerintah daerah turun tangan serius mengatasi persoalan ini.
“Dalam meningkatkan produktivitas pertanian, bukan hanya soal alsintan atau bibit, tapi juga kondisi air harus diperhatikan,” tegasnya.
(TN01)












