TITIKNOL.ID, JAKARTA – Dulu, pernikahan adalah simbol kebahagiaan dan awal kehidupan baru. Namun kini, bagi sebagian generasi muda, pernikahan justru tampak seperti beban yang menakutkan.
Fenomena ini dikenal dengan istilah “marriage is scary” pandangan bahwa pernikahan bukan lagi tentang cinta dan komitmen, melainkan tentang tekanan sosial, ekspektasi finansial, dan standar gaya hidup yang sulit dijangkau.
Fenomena “Marriage is scary” adalah ungkapan atau pandangan yang mencerminkan rasa takut, cemas, atau keraguan terhadap pernikahan. Ini bukan istilah ilmiah, tetapi populer di media sosial dan sering digunakan oleh generasi muda, terutama generasi milenial dan Gen Z, untuk mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap komitmen pernikahan.
Ungkapan “marriage is scary” sering muncul dalam, Thread X (Twitter), TikTok, Instagram Reels. Di mana orang membagikan pengalaman, curhat, atau bahkan candaan soal bagaimana sulitnya mempertahankan hubungan jangka panjang.
Di media sosial, semakin banyak orang yang mengeluhkan “keharusan” menggelar pesta pernikahan mewah.
Mulai dari bridal shower, seragam bridesmaid lengkap dengan akomodasi mereka, hingga resepsi yang dipenuhi dekorasi kekinian, makanan internasional, dan gaun mahal.
Alih-alih merasa bahagia, calon pengantin justru tertekan, bahkan sebelum pernikahan dimulai.
Ketakutan itu pun bukan tanpa alasan.
“Ada tekanan sosial untuk mengikuti tren, padahal secara finansial belum tentu sanggup. Di sinilah muncul rasa takut untuk menikah,” ujar Dr. Mustaghfiroh Rahayu, M.A, sosiolog sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU), yang dikutip Titiknol.id pada Sabtu (13/9/2025).
Ketika Pernikahan Menjadi Beban
Menurut Ayu, sapaan akrab Mustaghfiroh, kelompok masyarakat urban paling rentan mengalami tekanan ini.
Berbeda dengan komunitas tradisional yang masih menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, masyarakat urban seringkali harus menanggung seluruh beban biaya pernikahan secara mandiri.
Pernikahan dianggap sepenuhnya urusan calon pengantin, tanpa campur tangan keluarga.
“Saat harus membiayai semuanya sendiri, sementara terpapar tren-tren yang mahal, wajar jika banyak yang merasa takut untuk menikah,” tuturnya.
Bagi mereka yang berasal dari keluarga besar yang solid, tekanan semacam ini relatif lebih ringan.
Masih banyak orang tua yang membantu menyiapkan biaya pernikahan, bahkan mengatur seluruh acara secara gotong royong bersama tetangga.
“Struktur keluarga yang kuat berperan sebagai jaring pengaman emosional dan finansial. Calon pengantin merasa tidak sendiri dalam menjalani prosesnya,” tambah Ayu.
Ketakutan yang Berdampak pada Angka Pernikahan
Fenomena ini pun berdampak nyata. Kementerian Agama (Kemenag) mencatat tren penurunan angka pernikahan sejak tahun 2019.
Data menunjukkan jumlah pernikahan nasional terus menurun dari 2 juta pada 2019 menjadi hanya 1,47 juta pada 2024.
Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menyatakan bahwa persepsi negatif terhadap pernikahan perlu segera diluruskan.
Menurutnya, pernikahan yang ditakuti ini seringkali hanya karena ketidaksiapan atau tekanan yang salah arah.
“Pernikahan bisa menjadi perjalanan yang menyenangkan jika dipersiapkan dengan baik,” ujarnya saat menghadiri Milad ke-63 Wanita Islam, Rabu (10/9/2025).
Untuk itu, Kemenag menggalakkan program Bimbingan Perkawinan bagi Calon Pengantin (Bimwin) yang membekali generasi muda dengan keterampilan hidup, termasuk komunikasi, pengelolaan keuangan, dan manajemen konflik.
Menikah atau Tidak?
Fenomena “marriage is scary” mencerminkan ketakutan yang tumbuh dari pergeseran nilai sosial dan gaya hidup.
Menikah tak lagi sekadar keputusan emosional, tapi juga keputusan logis yang penuh pertimbangan.
Sebagian orang akhirnya memilih untuk menunda, bahkan tidak menikah sama sekali. Bukan karena tidak percaya cinta, tetapi karena takut memulai hidup dengan utang dan tekanan sosial yang tidak realistis.
Dan mungkin, inilah saatnya untuk meninjau ulang: Benarkah resepsi mewah adalah syarat bahagia?
Atau justru cinta yang sederhana dan saling memahami adalah fondasi paling kuat dalam pernikahan?
“Marriage is scary” bukan berarti orang tidak mau menikah sama sekali, tapi lebih kepada kekhawatiran realistis terhadap tanggung jawab besar yang datang bersama pernikahan. Fenomena ini mencerminkan pergeseran pola pikir yang lebih hati-hati dan introspektif, bukan sekadar penolakan terhadap institusi pernikahan.
Jika kamu merasa takut menikah, kamu tidak sendiri. Tapi sebelum memutuskan, pastikan ketakutanmu berasal dari pertimbangan yang sehat, bukan tekanan sosial yang mengaburkan makna sesungguhnya dari komitmen itu. (*)












