TITIKNOL.ID, PENAJAM – Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali mencatat sejarah.
Sebanyak 1.486 orang dari berbagai latar belakang turun langsung menanam 1.010 pohon kopi liberika di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sanggai, Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Provinsi Kalimantan Timur pada Minggu (12/10/2025).
Kegiatan kolaboratif ini bukan sekadar seremoni hijau-hijauan. Lebih dari itu, aksi ini menegaskan tekad untuk mengangkat kopi liberika lokal sebagai identitas pertanian IKN, sekaligus menembus pasar global.
Tak tanggung-tanggung, Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menganugerahkan penghargaan sebagai “Penanaman Pohon Kopi Liberika oleh Peserta Terbanyak” menandai momentum penting bagi kebangkitan kopi liberika di tanah Sepaku.
“Rekor ini bukan milik Otorita IKN, tapi milik para petani. Ini semangat bersama untuk menjadikan liberika bukan hanya produk, tapi identitas,” ujar Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono.
Sudah Tumbuh Sejak 1981
Basuki mengungkapkan bahwa kopi liberika bukan tanaman baru di kawasan IKN. Varietas ini telah tumbuh di Sepaku sejak 1981, namun belum mendapatkan sorotan dan dukungan maksimal.
Kini, dengan sinergi antara petani, pelajar, akademisi, korporasi, dan pemerintah, liberika kembali diperhitungkan. Bukan hanya soal rekor, tapi juga potensi ekonomi dan ekspor.
Ketua Asosiasi Petani Kopi Liberika Sepaku (APKLS), Sugiman, mengungkapkan bahwa permintaan terhadap kopi ini terus meningkat, bahkan telah menembus pasar internasional.
“Kami baru saja menerima pesanan 20 kontainer biji kopi dari Qatar,” kata Sugiman.
Ia menambahkan, liberika adalah tanaman yang tahan banting, minim perawatan, dan cocok untuk kondisi geografis lokal.
Dibandingkan dengan komoditas seperti sawit, kopi ini dianggap lebih adaptif dan ekonomis.
Kopi liberika dikenal dengan profil rasa unik yang berbeda dari arabika maupun robusta.
Di tengah tren global terhadap kopi spesialti, liberika dari Sepaku punya peluang besar untuk masuk pasar ekspor secara berkelanjutan.
Pertanian jadi Fondasi IKN yang Berkelanjutan
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Otorita IKN, Kementerian Pertanian (Ditjen Perkebunan), pemerintah daerah, komunitas petani, serta mitra swasta seperti Bank Indonesia, Pupuk Kaltim, dan Kampung Kecil.
Basuki menegaskan bahwa pertanian tidak boleh dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian inti dari pembangunan kota yang berkelanjutan.
“Kita membangun kota dari bawah, dari alamnya, dari masyarakatnya. Dan kopi liberika adalah lambang semangat itu,” pungkasnya. (*)












