TITIKNOL.ID, BONTANG – Penantian panjang 30 tahun industri kimia nasional akhirnya berakhir. Kota Bontang kini menjadi saksi sejarah pembangunan Pabrik Soda Ash pertama di Indonesia.
Proyek ambisius senilai Rp5 triliun ini dipercaya akan menjadi magnet baru investasi dan sekaligus menjadi solusi bagi ribuan pencari kerja lokal.
Pemerintah Kota Bontang optimistis proyek yang digagas oleh PT Pupuk Kaltim ini akan membawa momentum besar bagi perekonomian daerah.
Pabrik ini akan berdiri kokoh di atas lahan seluas 16 hektare di Kawasan Industri KIE Bontang, dengan target beroperasi komersial pada akhir 2028.
Efek Berganda Ekonomi Lokal
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang, Muhammad Aspiannur, menyebut pembangunan pabrik ini sebagai tonggak kemajuan ekonomi.
Kehadiran Soda Ash diyakini akan menumbuhkan efek berganda yang luas bagi sektor industri dan tenaga kerja lokal.
“Tentu ini akan memberi dampak langsung pada ekonomi masyarakat. Selain membuka lapangan kerja baru, juga akan memicu tumbuhnya industri turunan penting, seperti kaca, keramik, sabun, dan tekstil,” ujar Aspiannur, Sabtu (5/10/2025).
Aspiannur menegaskan bahwa DPMPTSP siap mengawal seluruh proses perizinan agar berjalan lancar, transparan, dan sesuai ketentuan hukum.
Komitmen mereka adalah:
- Menjaga iklim investasi tetap kondusif melalui layanan digital;
- Pendampingan investor;
- serta percepatan proses perizinan.
“Kami ingin manfaat investasi ini benar-benar dirasakan masyarakat lokal,” bebernya.
“Bontang siap menjadi kota yang ramah investasi dan berdaya saing,” tegasnya.
Prioritas Warga Lokal
Di tingkat nasional, proyek strategis ini bukan hanya berdampak ekonomi daerah, tetapi juga memperkuat posisi Bontang sebagai pusat industri kimia di Kalimantan Timur.
Produksi pabrik diproyeksikan mencapai 300 ribu metrik ton Soda Ash dan 300 ribu metrik ton amonium klorida per tahun.
Angka produksi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor nasional hingga 30 persen pada tahap awal.
Rahmad Pribadi, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, menilai pembangunan pabrik ini sebagai tonggak sejarah kemandirian industri kimia.
“Selama 30 tahun upaya membangun pabrik Soda Ash selalu kandas. Kini saatnya Indonesia berdiri di atas kekuatan sendiri. Ini adalah bakti kami untuk negeri,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni sebelumnya telah memberikan penekanan khusus pada kesejahteraan masyarakat lokal.
Ia mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2008 tentang Ketenagakerjaan, yang mewajibkan minimal 75 persen tenaga kerja berasal dari warga lokal.
“Kami mendukung penuh pembangunan Soda Ash ini, tapi komitmen terhadap tenaga kerja lokal wajib diprioritaskan,” tegas Neni. (*)












